Media Kampung – Pengunduran diri Hashim Djojohadikusumo dan Henny Santoso dari posisi komisaris utama dan direktur PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) telah menimbulkan pertanyaan mengenai prospek saham perusahaan ini ke depan. Meskipun keduanya baru menjabat selama sekitar tiga bulan, langkah ini menarik perhatian pasar terkait kemungkinan perubahan dalam kepemilikan dan arah strategi perusahaan.
Saham WIFI berpotensi mengalami volatilitas di pasar, terutama dengan adanya pengumuman Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan mengumumkan pengganti posisi yang kosong pada 21 Oktober 2026. Jika pengganti yang ditunjuk berasal dari luar Grup Arsari, hal ini dapat mengindikasikan bahwa Grup Arsari berencana untuk mengurangi keterlibatannya di perusahaan.
Pendapatan telekomunikasi WIFI mengalami lonjakan yang signifikan, dengan pertumbuhan sekitar 450% menjadi Rp1,28 triliun pada semester I 2026. Namun, kontribusi dari segmen Fixed Wireless Access (FWA) dan layanan fiber optik belum terpisah dalam laporan keuangan, sehingga perlu ada pengungkapan lebih rinci untuk mengevaluasi profitabilitas masing-masing segmen.
Dalam konteks ini, investor perlu memperhatikan bagaimana WIFI dapat mengubah infrastruktur dan perangkat yang dimiliki menjadi pelanggan berbayar. Proyek kabel bawah laut yang sedang dijalankan juga menawarkan peluang, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada struktur kerja sama dan implementasi operasional yang efektif.
Struktur manajemen WIFI juga mengalami perubahan, dengan Yune Marketatmo dipromosikan menjadi direktur dan Hendrik Tee yang sebelumnya terlibat dalam operasional kini menjabat sebagai presiden direktur. Hal ini menunjukkan adanya dinamika dalam manajemen yang mungkin mempengaruhi arah bisnis perusahaan.
Dengan semua perubahan ini, investor disarankan untuk melakukan analisis yang cermat mengenai risiko dan peluang yang ada dalam saham WIFI, terutama dengan mempertimbangkan situasi pasar dan langkah strategis perusahaan setelah pergeseran manajemen ini.














