Media Kampung, Jakarta – Setiap Minggu pagi, Nenek Diah, warga Jakarta Selatan berusia 57 tahun, rutin berjalan kaki menikmati suasana ruang publik Jakarta. Kebiasaan ini telah menjadi bagian dari hidupnya selama hampir empat dekade, dimulai sejak era Gelora Bung Karno (GBK) sebelum Car Free Day (CFD) dikenal luas.
Bermula pada tahun 1987, Diah rutin berolahraga di kawasan GBK, Senayan, Jakarta Pusat. Saat itu, ia sudah mengutamakan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup sehat sejak usia 20-an. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan CFD di Jakarta, Diah pun menyesuaikan lokasi berolahraganya, dari GBK ke kawasan Sudirman, dan kini ke CFD HR Rasuna Said, Jakarta Selatan.
Rutinitas yang Tak Pernah Terlewatkan
Setiap Minggu, Diah berjalan kaki dari rumahnya di Setiabudi menuju kawasan CFD. Jarak bukan menjadi halangan baginya, bahkan ia mampu berjalan kaki hingga Bundaran Hotel Indonesia (HI) pulang-pergi. Bagi Diah, olahraga adalah soal menjaga tubuh tetap bergerak tanpa harus menggunakan aplikasi pencatat jarak atau kecepatan. Ia menekankan pentingnya konsistensi dan menikmati momen olahraga di ruang publik.
CFD sebagai Ruang Sosial dan Hiburan
Selain berolahraga, CFD juga menjadi ruang bagi Diah untuk berjalan-jalan, menikmati kuliner, dan bersosialisasi. Pada kesempatan Car Free Day di HR Rasuna Said, Diah datang bersama temannya, termasuk seorang penyandang tunawicara, untuk menikmati suasana kota yang lebih rileks tanpa kendala lalu lintas padat.
Selain rutinitas, Diah juga tertarik mengikuti acara khusus seperti Jakarta Penuh Warna yang diadakan di CFD HR Rasuna Said. Informasi kegiatan tersebut didapatkan dari media sosial, menunjukkan bagaimana ruang publik saat ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat olahraga, tetapi juga sebagai pusat kegiatan budaya dan hiburan.
Perubahan dan Manfaat Ruang Publik Jakarta
Pengalaman panjang Diah selama hampir 40 tahun menjadi saksi perubahan pemanfaatan ruang publik di Jakarta. Kini, lebih banyak warga yang memanfaatkan ruang terbuka seperti CFD untuk berolahraga dan bersantai. Pembagian lokasi CFD di beberapa kawasan juga membantu mengurangi kepadatan pengunjung di satu titik, sehingga pengalaman di tempat seperti HR Rasuna Said terasa lebih nyaman dibandingkan kawasan Sudirman yang lebih padat.
Diah mengapresiasi peningkatan fasilitas ruang publik yang semakin baik dan ramah bagi pejalan kaki. Penutupan jalan untuk kendaraan bermotor pada hari Minggu memberi kesempatan bagi warga menikmati udara segar dan lingkungan yang bebas macet, yang sangat berbeda dengan kondisi sehari-hari di Jakarta Selatan yang padat lalu lintas.
Menjaga Tradisi dan Kesehatan
Di usianya yang kini memasuki 57 tahun, Diah tetap mempertahankan kebiasaan berjalan kaki setiap minggu pagi sebagai cara menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Baginya, langkah kaki dan keringat yang tercurah adalah bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Rutinitas ini juga menjadi momen untuk melepas penat dari kesibukan sehari-hari dan menyatu dengan atmosfer kota yang lebih hidup dan bersahabat.











Tinggalkan Balasan