Media Kampung, Nepal – Banjir bandang yang melanda wilayah perbatasan Nepal-Tibet telah menyebabkan kerusakan besar, ratusan orang hilang, dan korban jiwa mencapai setidaknya 469 jiwa. Peristiwa ini terjadi setelah longsoran gletser yang memicu banjir dan tanah longsor dahsyat di distrik Rasuwa, Nepal, pada Rabu lalu.
Kecepatan dan kekuatan air yang datang secara tiba-tiba membuat banyak penduduk desa dan kota terdampak tidak sempat menyelamatkan diri. Seorang perawat yang juga ketua Asosiasi Nepal Non-Residen di Inggris, Rajendra Pudasaini, menyatakan bahwa keluarganya termasuk di antara yang hilang tersapu banjir. “Keluarga istri saya, termasuk bibi, paman, cucu mereka bersama suaminya, dan anak baptis saya, semuanya hilang,” ujarnya. Dia menggambarkan desa-desa di sekitar sungai seolah tersapu bersih oleh air bah.
Lebih dari 30 warga negara Inggris termasuk di antara ratusan orang yang hilang dan diduga tewas. Pemerintah Inggris melalui Menteri Luar Negeri Ed Miliband telah mengaktifkan pusat krisis dan mengalokasikan dana awal sebesar 5 juta pound untuk membantu penanganan bencana di Nepal.
Situasi semakin genting ketika polisi Nepal mengeluarkan peringatan darurat setelah sebuah bendungan di Tibet pecah, meningkatkan risiko banjir susulan. Warga dan petugas penyelamat di daerah Bhotekoshi diperintahkan untuk segera pindah ke tempat yang lebih aman. Pihak berwenang juga memperingatkan bahwa danau penghalang yang terbentuk di pertemuan Sungai Tsogyal dan Purupqiangzangbu sedang meluap dan berpotensi pecah.
Menurut data resmi dari National Disaster Risk Reduction and Management Authority (NDRRMA) Nepal, sebanyak 469 orang telah meninggal dunia, 977 orang masih belum ditemukan, dan lebih dari 3.000 orang berhasil diselamatkan. Kerusakan infrastruktur parah terjadi, termasuk jembatan yang hancur dan sekitar 40 kilometer jalan yang rusak, memutus akses di sejumlah wilayah terdampak.
Korban jiwa tidak hanya berasal dari penduduk lokal, melainkan juga turis asing. Dua warga Irlandia, Santosh Sahu (46 tahun) dan Spandan Sahu (18 tahun), dilaporkan hilang saat melakukan ziarah bersama rombongan di Danau Gosainkunda, sebuah situs suci di Taman Nasional Langtang Nepal. Jumlah turis asing yang hilang tercatat mencapai lebih dari 540 orang, yang sebagian besar berada di jalur trekking dan kawasan peziarahan populer.
Upaya pencarian dan penyelamatan dilakukan dengan menggunakan helikopter, alat berat, dan anjing pelacak. Namun, operasi sempat dihentikan sementara waktu karena ancaman banjir baru akibat naiknya permukaan air di danau penghalang. Para petugas dan warga diminta waspada dan siap untuk segera mengevakuasi diri jika situasi memburuk.
Bencana ini menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang signifikan bagi Nepal, salah satu negara yang rentan terhadap perubahan iklim dan bencana alam. Pemerintah dan komunitas internasional terus memantau perkembangan dan mengupayakan bantuan kemanusiaan serta rekonstruksi infrastruktur yang terdampak.
Dengan kondisi yang masih belum stabil dan ancaman banjir susulan, fokus utama saat ini adalah keselamatan jiwa dan penyelamatan korban yang masih terjebak di daerah terpencil. Masyarakat diimbau untuk mengikuti arahan resmi dan menghindari area rawan banjir selama masa tanggap darurat berlangsung.















Tinggalkan Balasan