Media Kampung – Target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6 persen pada tahun 2027 yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto menghadapi berbagai tantangan signifikan. Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun tersebut hanya mencapai sekitar 4,7 persen, jauh di bawah target resmi pemerintah.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi dan Faktor Global

Nailul Huda menilai target 6 persen terlalu optimistis mengingat kondisi ekonomi global dan nasional yang penuh ketidakpastian. Ketegangan geopolitik meningkat, dan sejumlah lembaga internasional seperti World Bank, OECD, dan IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia yang relatif terbatas, berkisar antara 2,8 hingga 3,4 persen.

Baca juga:

Perlambatan ekonomi di negara-negara besar, perubahan rezim suku bunga, serta konflik di Timur Tengah berpotensi menekan perdagangan global. Kondisi ini dapat berdampak pada perekonomian Indonesia, terutama melalui penurunan permintaan ekspor dan aktivitas perdagangan internasional.

Risiko Ekonomi Domestik yang Menghambat Pertumbuhan

Dari sisi domestik, terdapat sejumlah risiko yang turut menghambat pertumbuhan ekonomi. Ancaman El Nino yang dapat mempengaruhi sektor pertanian, kenaikan harga barang, pelemahan nilai tukar rupiah, serta kenaikan harga minyak dunia menjadi faktor yang menekan konsumsi rumah tangga. Selain itu, potensi terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam jumlah besar pada tahun 2026 juga menjadi perhatian.

Konsumsi rumah tangga merupakan kontributor utama bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, dengan andil lebih dari 50 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Tekanan pada konsumsi ini berpotensi memperlambat laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Baca juga:

Dampak Program MBG dan Utang KDKMP terhadap APBN

Menurut Nailul, ruang pemerintah untuk mengandalkan belanja negara sebagai pengungkit pertumbuhan ekonomi semakin terbatas. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sebelumnya memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan diperkirakan akan mengalami penyesuaian anggaran. Selain itu, Program Koperasi Desa-Kelurahan Merah Putih (KDKMP) juga tidak lagi mampu memberikan dorongan signifikan pada sektor konstruksi.

Pengelolaan Dana Desa pun menghadapi tantangan karena sebagian dana dialokasikan untuk membayar cicilan utang KDKMP kepada bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Hal ini mengurangi kemampuan pemerintah desa dalam menggerakkan dana untuk pembangunan lokal.

Proyeksi dan Tantangan Pemerintah

Nailul memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 berada pada kisaran maksimal 4,7 persen, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kenaikan PHK dan inflasi yang meningkat dari sisi biaya produksi. Hal ini dapat menekan konsumsi rumah tangga dan memperlambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Baca juga:

Presiden Prabowo Subianto menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada 2027, lebih tinggi dibandingkan asumsi dalam APBN 2026 yang sebesar 5,4 persen. Perbedaan ini menunjukkan tantangan besar yang harus dihadapi pemerintah, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global dan risiko domestik.

Kesimpulan

Target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027 menghadapi hambatan dari faktor global dan domestik, termasuk dampak penyesuaian program MBG dan utang KDKMP terhadap APBN. Proyeksi realistis menunjukkan pertumbuhan sekitar 4,7 persen, menandakan perlunya strategi kebijakan yang matang untuk mengelola risiko dan memacu pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.