Media Kampung, Perhelatan Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko membawa berkah ekonomi yang tak merata di Indonesia. Meski antusiasme masyarakat terhadap sepak bola tetap tinggi, banyak kafe dan tempat nobar (nonton bareng) justru sepi pengunjung. Penyebab utamanya adalah perbedaan waktu: sebagian besar pertandingan berlangsung pada dini hari hingga menjelang subuh waktu Indonesia.

Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam ekonomi modern, waktu menjadi faktor krusial yang menentukan perputaran uang. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menyumbang lebih dari 60 persen Produk Domestik Bruto Indonesia serta menyerap sebagian besar tenaga kerja nasional sangat bergantung pada keramaian pelanggan. Konser musik, festival, hingga car free day mampu menggerakkan ekonomi karena mampu mengumpulkan banyak orang pada waktu yang sama. Namun, ketika pertandingan Piala Dunia berlangsung pada jam yang tidak ramah, efek ekonominya pun berkurang.

Banyak orang memilih untuk tetap tidur dan mengikuti hasil pertandingan keesokan harinya melalui media sosial. Mereka yang memilih istirahat bukan karena tidak mencintai sepak bola, melainkan karena menyadari bahwa produktivitas esok hari lebih penting daripada kesenangan sesaat. Keputusan ini mencerminkan fenomena attention economy atau ekonomi perhatian, di mana sumber daya yang paling langka bukan lagi informasi, melainkan perhatian manusia.

Piala Dunia 2026 secara tidak langsung menunjukkan batas dari ekonomi perhatian. Sebesar apa pun sebuah peristiwa global, ia tetap harus berhadapan dengan kenyataan bahwa manusia memiliki waktu dan energi yang terbatas. Di sisi lain, sepinya nobar justru menunjukkan hal positif: masyarakat mulai menghargai waktu istirahat sebagai kebutuhan dasar.

Pelajaran yang dapat dipetik adalah bahwa waktu lebih berharga daripada uang. Uang yang hilang dapat dicari kembali, tetapi waktu yang terlewat tidak akan pernah kembali. Meskipun banyak kafe tidak mendapatkan keuntungan sebesar yang diharapkan selama Piala Dunia, di balik kursi-kursi kosong tersimpan pelajaran berharga: ekonomi bergerak ketika perhatian manusia berkumpul pada waktu yang sama. Ketika waktu tidak pernah benar-benar bertemu, bahkan pesta olahraga terbesar di dunia pun tidak selalu mampu menggerakkan roda ekonomi hingga ke sudut-sudut kafe di Indonesia.