Media Kampung, Mohammad Husni Thamrin, atau M.H. Thamrin, adalah sosok yang langka: seorang pejuang yang menggunakan instrumen kolonial untuk melawan kolonialisme. Ia adalah anak Betawi yang lahir di persimpangan zaman, ketika Belanda mulai keropos dan embrio kemerdekaan mulai tumbuh. Thamrin tidak memilih jalur radikal bersenjata, melainkan masuk ke dalam sistem—duduk di Gemeenteraad (Dewan Kota) dan Volksraad (Dewan Rakyat)—untuk memperjuangkan hak-hak rakyat dari dalam.
Menyalakan Panggung Ilusi
Volksraad adalah parlemen kolonial yang dirancang sebagai kosmetik politik untuk menjinakkan suara bumiputra. Namun Thamrin mengubahnya menjadi mimbar perlawanan. Ia menyuarakan perbaikan kampung (Kampongs Verbetering), hak pendidikan, dan penolakan terhadap pajak yang menindas. Salah satu pidatonya yang paling berpengaruh adalah tentang poenali sanctie, hukuman kejam bagi buruh di perkebunan Deli, Sumatra. Kata-katanya menyebar ke luar negeri, bahkan memicu kampanye boikot tembakau Deli di Amerika Serikat. Tekanan internasional itu akhirnya membuat pemerintah kolonial menghapuskan poenali sanctie.
Thamrin juga memperjuangkan simbol-simbol identitas nasional. Ia mengganti sebutan Nederlands-Indië dan inlander dengan Indonesia. Baginya, identitas nasional adalah langkah pertama menuju kemerdekaan.
Jembatan Antara Radikal dan Kooperatif
Thamrin menjadi penghubung antara kelompok pergerakan yang radikal dan yang kooperatif. Ia memahami bahwa keduanya sama-sama penting. Ia membangun Fraksi Nasional di Volksraad untuk memperjuangkan kemerdekaan secara kolektif. Langkahnya adalah strategi halus: menggunakan peralatan yang disediakan penjajah untuk membangun kapasitas rakyat, lalu menghajar balik.
Sepak Bola sebagai Alat Perjuangan
Di luar politik formal, Thamrin memanfaatkan sepak bola untuk menyatukan rakyat. Pada 1928, ia mendirikan klub Vorstenlandsche Voetbal Bond (VVB) yang kemudian berganti nama menjadi Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ)—cikal bakal Persija Jakarta. Stadion VIJ menjadi tempat konsolidasi tokoh pergerakan. Soekarno, yang baru bebas dari penjara Sukamiskin, diundang Thamrin untuk membuka kompetisi PSSI pada 1932. Bagi Thamrin, sepak bola adalah metafora perjuangan: tim yang bersatu, strategi matang, dan keberanian di lapangan.
Akhir Hidup dan Warisan
Pengaruh Thamrin yang terus membesar membuat Belanda meningkatkan tekanan. Ia diawasi ketat, diserang politik, dan akhirnya ditahan di rumah saat terbaring sakit. Ia meninggal pada 1941, sebelum sempat melihat Indonesia merdeka. Namun namanya abadi—tidak hanya sebagai nama jalan protokol di Jakarta, tetapi sebagai simbol perlawanan tanpa senjata. Thamrin mengajarkan bahwa kemerdekaan bukan sekadar klaim politik, melainkan proses moral, perjuangan intelektual, dan tanggung jawab setiap warga negara.
Kini, di tengah perayaan 81 tahun kemerdekaan, Nusantara Centre mengangkat Thamrin sebagai tokoh pertama dalam program kelas jenius pikiran para pendiri republik. Sebuah pengingat bahwa api yang dinyalakannya di mimbar Volksraad dan lapangan sepak bola masih terus menyala.























Tinggalkan Balasan