Media KampungDavid Gaider, kreator dunia Thedas dalam seri Dragon Age, saat ini berada dalam situasi genting. Melalui studionya, Summerfall Studios, ia tengah menggarap sebuah RPG bertema perampokan (heist) yang digambarkan sebagai proyek ‘make or break’ bagi kelangsungan studio tersebut. Dalam wawancara dengan PC Gamer, Gaider mengungkapkan bahwa pendanaan untuk proyek ini belum juga didapatkan di tengah kondisi industri game yang sedang mengalami kontraksi.

RPG anyar ini akan membawa pemain berperan sebagai sekawanan penjahat (rogues) yang mengendarai kapal udara dan melakukan serangkaian aksi perampokan. Alur cerita kemudian berkembang menjadi petualangan yang lebih khas RPG. Gaider sengaja mengusung nada yang lebih ringan dibanding karya-karyanya sebelumnya. “Saya ingin melakukan sesuatu yang tidak sepenuhnya komedi, tetapi sesuatu yang bisa membuat saya tersenyum,” ujarnya.

Kesulitan Mendapatkan Pendanaan

Meskipun prototipe game telah mendapat sambutan positif dari penerbit, belum ada satu pun yang bersedia memberikan dana untuk menyelesaikan pengembangan. Banyak penerbit saat ini hanya mau mendanai game yang sudah 80 persen selesai untuk meminimalkan risiko. “Kami bertanya kepada salah satu penerbit, ‘Apa Anda benar-benar menunggu kami menyelesaikan proyek ini sebelum berkomitmen?’ Dan mereka dengan malu-malu menjawab, ‘Kurang lebih, ya,'” kenang Gaider.

Stray Gods dan Dampak Baldur’s Gate 3

Sebelum proyek ini, Summerfall Studios merilis Stray Gods, sebuah game naratif bergaya Telltale dengan elemen musikal. Sayangnya, perilisan game tersebut bertepatan dengan Baldur’s Gate 3 yang dimajukan jadwalnya oleh Larian Studios. Gaider mengakui bahwa hal tersebut menghambat kesuksesan komersial Stray Gods. “Apakah Stray Gods akan menjadi hit jika itu tidak terjadi? Saya tidak tahu, tapi itu pasti membuat kami sulit untuk diperhatikan,” katanya.

Setelah itu, Summerfall membuat DLC dan sebuah deckbuilder naratif berjudul Malys yang dibintangi seorang eksorsis naik motor. Proyek sampingan itu awalnya tidak diharapkan menghasilkan banyak uang, namun penjualan yang rendah juga mempersempit ruang gerak studio untuk menyelesaikan prototipe RPG heist. Kini, Gaider menyebut pencarian dana tambahan sebagai “make it or break it” bagi studio.

Pandangan Gaider tentang BioWare dan Dragon Age

Gaider juga angkat bicara mengenai Dragon Age: The Veilguard yang dirilis pada 2024. Ia tidak memainkannya karena “tahu terlalu banyak tentang apa yang terjadi di balik layar.” Menurutnya, tim pengembang sudah dirugikan sejak awal oleh Electronic Arts. Salah satu kritik utama terhadap The Veilguard adalah kurangnya friksi antar karakter—sesuatu yang justru menjadi ciri khas Dragon Age sebelumnya.

“Karakter butuh kemampuan untuk tidak setuju dengan keputusan Anda, dan bahkan mungkin berbalik melawan Anda,” tegas Gaider. Ia menyesalkan tren BioWare yang semakin menghindari kemungkinan pemain ‘mengacaukan’ permainan secara permanen. “Ide bahwa kita tidak bisa mengeluarkan seseorang dari grup secara permanen, bahwa pengikut harus selalu setuju demi alasan gameplay, bertentangan dengan hal yang membuat game BioWare paling populer,” tambahnya.

Jika proyek RPG heist ini gagal mendapatkan pendanaan, Gaider mengaku akan bersikap filosofis. “Tidak semuanya bertahan selamanya. Tujuh atau delapan tahun adalah waktu yang cukup lama, dan itu fantastis,” ujarnya. Namun, ia masih membuka kemungkinan untuk kembali ke dunia Thedas jika ada kesempatan. “Untuk kembali ke dasar-dasar yang membuat Dragon Age menarik bagi banyak orang. Dan pergi ke tempat yang gelap dan berbahaya, melakukan hal-hal yang akan membuat orang kesal. Saya pikir itulah yang ingin saya lakukan dengannya,” pungkasnya.


Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.