Media Kampung – Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street, ditutup beragam pada perdagangan Kamis (27/6/2026) menjelang libur panjang Hari Kemerdekaan AS. Indeks Dow Jones Industrial Average justru melonjak lebih dari 1 persen dan mencatat rekor penutupan tertinggi baru, didorong oleh data ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan. Namun, kekhawatiran terhadap inflasi tetap membayangi, terutama setelah harga minyak melonjak tajam.
Kinerja Indeks Utama
- Dow Jones Industrial Average naik 594,83 poin (1,14%) ke 52.900,07 — rekor penutupan tertinggi sepanjang masa.
- Indeks S&P 500 naik tipis 0,01 poin ke 7.483,24.
- Nasdaq Composite justru turun 207,36 poin (0,80%) ke 25.832,67, tertekan oleh pelemahan saham sektor semikonduktor.
Secara mingguan, Dow Jones menguat sekitar 2 persen, S&P 500 naik 1,8 persen, dan Nasdaq bertambah 2,1 persen. Dow Jones membukukan kenaikan selama empat pekan berturut-turut, menjadi reli mingguan terpanjang sejak Oktober 2024.
Data Ketenagakerjaan AS Lebih Lemah dari Ekspektasi
Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa ekonomi AS hanya menambah 57.000 lapangan kerja pada bulan lalu, jauh di bawah perkiraan ekonom yang memperkirakan penambahan 110.000 lapangan kerja. Sementara itu, tingkat pengangguran tercatat sebesar 4,2 persen, sejalan dengan ekspektasi pasar sebesar 4,3 persen. Data ini muncul setelah serangkaian pertumbuhan lapangan kerja yang kuat sebelumnya.
Laporan ketenagakerjaan yang mengecewakan ini mendorong penurunan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September turun menjadi 55 persen dari sebelumnya 64,1 persen.
Kekhawatiran Inflasi Belum Reda
Meskipun data ketenagakerjaan meredakan tekanan terhadap The Fed untuk menaikkan suku bunga dalam jangka pendek, kekhawatiran terhadap inflasi tetap ada. “Data ketenagakerjaan ini bukan berarti kekhawatiran terhadap inflasi sudah berakhir,” ujar Adam Sarhan, Chief Executive Officer 50 Park Investments di New York. “Namun, data ini mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk menaikkan suku bunga dalam jangka pendek,” lanjutnya. Investor juga mengkhawatirkan inflasi terutama setelah harga minyak melonjak tajam pada awal perang Iran.
Sektor Teknologi dan Semikonduktor Tertekan
Saham Apple naik 4,8 persen dan menjadi salah satu penopang utama ketiga indeks saham utama setelah Nikkei Asia melaporkan perusahaan tersebut berencana meluncurkan lima model iPhone baru. Namun, indeks semikonduktor (SOX) ditutup turun 5,4 persen, memperpanjang pelemahan tajam selama dua hari berturut-turut. Saham Nvidia melemah 1,4 persen, sedangkan SanDisk anjlok 14,1 persen. Managing Director Granite Wealth Management, Bruce Zaro, mengatakan investor kemungkinan mulai merealisasikan keuntungan pada saham-saham chip setelah reli kuat sepanjang tahun ini. Meski demikian, indeks semikonduktor masih mencatat kenaikan sekitar 78 persen sejak awal tahun.
Kondisi Perdagangan
Di Bursa New York (NYSE), jumlah saham yang naik lebih banyak dibandingkan yang turun dengan rasio 1,42 banding 1. Sebanyak 318 saham mencetak level tertinggi baru dan 111 saham menyentuh level terendah baru. Di Nasdaq, terdapat 2.419 saham yang menguat dan 2.548 saham yang melemah, sehingga saham yang turun sedikit lebih banyak dibandingkan yang naik dengan rasio 1,05 banding 1. Baik indeks S&P 500 maupun Nasdaq Composite tidak mencatat saham yang menyentuh level tertinggi maupun terendah baru dalam periode 52 minggu. Volume perdagangan di bursa AS mencapai 19,92 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 20 hari perdagangan terakhir yang sebesar 23,34 miliar saham.
Pasar saham AS akan tutup pada Jumat (4/7/2026) untuk memperingati Hari Kemerdekaan AS. Dengan data ketenagakerjaan yang lemah dan kekhawatiran inflasi yang masih ada, investor akan mencermati perkembangan selanjutnya, termasuk data inflasi dan pernyataan pejabat The Fed.
Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.























Tinggalkan Balasan