Media Kampung – Penjualan Tesla mengalami lonjakan signifikan pada kuartal kedua 2026, didorong oleh tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat. Produsen mobil listrik asal Amerika Serikat itu berhasil mengirimkan 480.126 unit kendaraan listrik pada periode April-Juni 2026, naik 25% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Angka tersebut jauh melampaui ekspektasi pasar. Konsensus analis Wall Street yang dihimpun Bloomberg memperkirakan Tesla hanya akan menjual 396.466 unit, sementara konsensus internal perusahaan memperkirakan 406.024 unit. Saham Tesla sempat naik hampir 2% dalam perdagangan pra-pasar setelah pengumuman tersebut.

Dampak Harga BBM Tinggi

Kenaikan harga BBM akibat konflik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang mendorong konsumen beralih ke kendaraan listrik. Data AAA menunjukkan harga rata-rata BBM di AS mencapai puncaknya pada Mei 2026 di sekitar US$4,56 per galon, naik dari kurang dari US$3 per galon pada Februari 2026.

Stephanie Valdez-Streaty, Direktur Wawasan Industri Cox Automotive, mengatakan kepada Business Insider bahwa penjualan Tesla pada kuartal kedua didorong oleh harga BBM yang tinggi. Data Kelley Blue Book memperkirakan penjualan kendaraan listrik di AS melampaui 85.000 unit pada Mei 2026, tertinggi sejak insentif pajak federal sebesar US$7.500 untuk kendaraan listrik dihapuskan pada September 2025.

Kebangkitan di Tengah ‘Musim Dingin EV’

Kinerja positif Tesla terjadi di tengah penurunan pasar kendaraan listrik AS secara keseluruhan. Setelah berakhirnya kredit pajak, penjualan kendaraan listrik AS turun 27% pada kuartal pertama 2026, menurut Cox Automotive. Banyak model kendaraan listrik menghilang dari pasar karena produsen mobil mengurangi target ambisius mereka di tengah permintaan yang lemah.

Namun, lonjakan harga BBM tampaknya memberikan dorongan bagi industri. Penjualan Tesla juga menunjukkan pemulihan dari gelombang reaksi negatif terhadap Elon Musk pada 2025.

Fenomena Serupa pada Model Bensin vs Listrik

Fenomena serupa terlihat pada model mobil lain. Dodge Charger versi bensin mencatatkan lonjakan penjualan 404% pada kuartal II 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menjadi 2.911 unit. Sebaliknya, versi listrik Dodge Charger Daytona EV justru ambles 88% pada periode yang sama, hanya terjual 294 unit. Data ini menunjukkan bahwa konsumen masih lebih memilih kendaraan berbahan bakar bensin ketika harga BBM tinggi, namun untuk segmen tertentu, kendaraan listrik tetap menjadi alternatif menarik.

Prospek ke Depan

Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan bahwa harga BBM diperkirakan akan terus turun, terutama saat musim liburan. Namun, tren penjualan kendaraan listrik ke depan akan sangat bergantung pada kebijakan energi dan stabilitas harga BBM global. Sementara itu, Tesla terus mengandalkan inovasi seperti robotaxi Cybercab dan robot humanoid Optimus untuk pertumbuhan jangka panjang.


Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.