Media Kampung – Kementerian Koordinator Bidang Pangan resmi meluncurkan program Green and Smart Port Initiatives (GSPI) ASRI 2026 sebagai upaya strategis memperkuat sistem logistik pangan nasional. Program ini mengintegrasikan transformasi pelabuhan ramah lingkungan dan digital dengan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah).

Deputi Bidang Koordinasi Tata Niaga dan Distribusi Pangan Kemenko Pangan, Tatang Yuliono, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/7/2026), menjelaskan bahwa GSPI ASRI merupakan pengembangan dari program Green and Smart Port yang telah berjalan sejak 2019. “Kami langsung memasukkan inisiatif Presiden tentang ASRI, Aman, Sehat, Resik, dan Indah,” ujarnya.

Pelabuhan sebagai Simpul Utama Distribusi Pangan

Tatang menekankan bahwa pelabuhan menjadi simpul utama distribusi pangan dari sentra produksi menuju pusat konsumsi hingga pasar ekspor. Oleh karena itu, transformasi pelabuhan melalui digitalisasi dan penerapan prinsip ramah lingkungan menjadi faktor penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Asesmen Green and Smart Port menggunakan standar internasional dengan komposisi penilaian 80 persen untuk aspek Green Port (ramah lingkungan) dan 20 persen untuk Smart Port (digitalisasi). “Asesmennya sangat ketat menggunakan standar internasional. Pendekatannya terkait teknologi pintar dan juga ramah lingkungan,” kata Tatang.

Sertifikasi ini diharapkan meningkatkan kepercayaan pelaku usaha terhadap pelabuhan yang telah menerapkan standar keberlanjutan. “Kami ingin menyampaikan kepada seluruh pelaku usaha bahwa delapan pelabuhan ini telah mendapatkan sertifikasi. Harapan besarnya membawa kepercayaan dari pelaku usaha,” imbuhnya.

Delapan Pelabuhan Raih Sertifikasi Green and Smart Port 2025

Sebanyak delapan pelabuhan dinyatakan memenuhi standar Green and Smart Port 2025. Berikut daftarnya:

  • TUKS PT Petrokimia Gresik
  • Terminal Khusus PT Pupuk Kalimantan Timur
  • PT Krakatau Bandar Samudera
  • PT Vale Indonesia Tbk
  • PT Indonesia Kendaraan Terminal
  • PT Pelindo Terminal Petikemas Banjarmasin
  • PT Pelindo Multi Terminal Cabang Tanjung Intan
  • PT Pelindo Terminal Petikemas Bitung

Dampak dan Target ke Depan

Selain mendorong efisiensi logistik, penerapan program ini juga ditujukan untuk menekan emisi karbon melalui pengelolaan yang lebih ramah lingkungan. Pemerintah berharap semakin banyak pelabuhan Indonesia mengikuti asesmen sehingga tercipta ekosistem logistik yang modern, berkelanjutan, dan mendukung ketahanan pangan.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Muhammad Masyhud, menyatakan bahwa saat ini sertifikasi Green and Smart Port masih bersifat sukarela. Namun, ke depan pemerintah akan mendorong penerapannya menjadi kewajiban bagi seluruh pelabuhan. “Pada waktunya nanti bisa menjadi suatu kewajiban ketika hampir semua pelabuhan atau fasilitas dermaga sudah tersertifikasi. Green and Smart Port ini nantinya akan menjadi standar yang kami terapkan,” ujarnya.

Masyhud menjelaskan bahwa konsep Green and Smart Port menitikberatkan pada pengelolaan pelabuhan yang ramah lingkungan dengan bobot penilaian 80 persen, dan aspek digitalisasi sebesar 20 persen. Pendekatan ini dinilai sejalan dengan upaya meningkatkan kualitas layanan kepelabuhanan sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

Pemerintah melibatkan lembaga independen dalam proses asesmen agar hasil sertifikasi lebih objektif. Kemenhub juga akan melakukan pembinaan terhadap pelabuhan yang belum tersertifikasi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pengelolaan pelabuhan secara menyeluruh.

Puncak Acara GSPI ASRI 2026

Puncak GSPI ASRI 2026 akan digelar pada 15 Juli 2026 di Dermaga C Pelabuhan PT Petrokimia Gresik, Jawa Timur. Pada kesempatan tersebut, pemerintah akan menyerahkan penghargaan kepada delapan pelabuhan yang dinilai berhasil menerapkan prinsip Green and Smart Port.


Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.