Media Kampung – Kebiasaan makan masyarakat Indonesia kerap menempatkan nasi sebagai ‘aktor utama’ di piring, sementara lauk dan sayuran hanya pelengkap. Doktrin ‘kenyang dengan nasi segunung’ ini justru menjadi pemicu utama melonjaknya kasus gangguan metabolik. Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Luh Putu Dea Sasmita Pralambari, SpPD, memperkenalkan skema pembagian porsi yang merombak total struktur isi piring makan sehari-hari.
Prinsip Piring Makan Seimbang
Menurut dr. Dea, sebelum memulai ritual makan, kita perlu memikirkan komposisi piring. Setengah piring sebaiknya diisi dengan sumber protein, baik hewani maupun nabati. Seperempat piring diisi karbohidrat, dan seperempat sisanya ditambahkan komponen nutrisi pendukung seperti sayuran hijau dan serat. Melalui formula ini, protein memegang porsi paling dominan, sementara karbohidrat bergeser menjadi komponen pendukung.
Pentingnya Memilih Karbohidrat
Mengapa porsi karbohidrat harus dikurangi dan dipilih secara cermat? Dokter Dea menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami perbedaan antara karbohidrat sederhana dan kompleks, terutama pengaruhnya terhadap kestabilan gula darah. Nasi putih, yang menjadi makanan pokok harian, termasuk karbohidrat sederhana. Jenis ini memiliki laju metabolisme sangat cepat, menyebabkan lonjakan gula darah instan dan mempercepat pengosongan lambung, sehingga mudah lapar kembali.
Sebaliknya, karbohidrat kompleks seperti nasi merah, oat, atau umbi-umbian dicerna perlahan, melepaskan glukosa secara bertahap, memberikan efek kenyang lebih lama dan menjaga gula darah tetap stabil. “Penting untuk memilih karbohidrat dengan cermat sebelum memulai proses makan,” jelas dr. Dea.
Konsumsi Protein dan Mitos yang Beredar
Saat ini, masyarakat terutama generasi muda berusaha meningkatkan konsumsi protein. Namun, data Badan Pangan Nasional menunjukkan rata-rata konsumsi protein hanya 62,33 gram pada 2023 dan turun menjadi 61,7 gram pada 2024. Salah satu faktornya adalah kekhawatiran mengonsumsi daging dalam porsi besar, anggapan bahwa daging mengganggu pencernaan, dan mitos risiko cacingan akibat pengolahan kurang matang.
Menanggapi hal ini, dr. Dea menegaskan bahwa kunci keamanan konsumsi protein terletak pada higienitas dan cara pengolahan. “Untuk daging hewani, semakin matang proses memasaknya, tentu semakin baik. Kita harus memastikan kebersihan dan tingkat kematangannya sebelum dikonsumsi,” jelasnya.
Namun, ia juga memberikan catatan khusus: mengonsumsi daging merah setiap hari berturut-turut dalam seminggu tidak direkomendasikan secara medis. Sebagai solusi, masyarakat diimbau memvariasikan sumber protein harian dengan protein nabati seperti tahu, tempe, dan kacang-kacangan.
Prinsip dasar nutrisi yang harus dipegang adalah keseimbangan. Segala jenis makanan, termasuk protein yang dinilai baik, jika dikonsumsi melebihi batas kebutuhan harian tetap akan berdampak kurang baik.
Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.





Tinggalkan Balasan