Media Kampung – 11 April 2026 | Pemerintah Indonesia menetapkan bahwa penggunaan bahan bakar avtur bersubsidi bio sebesar 1% akan mulai diberlakukan pada tahun 2027 di dua bandara internasional terpilih. Kebijakan ini merupakan langkah pertama dalam rangka menurunkan jejak karbon sektor penerbangan.

Bioavtur merupakan bahan bakar penerbangan yang diproduksi dari sumber biomassa seperti minyak nabati atau limbah organik, sehingga menghasilkan emisi CO₂ yang lebih rendah dibandingkan avtur konvensional. Menurut Kementerian Energi, pencampuran 1% dapat mengurangi emisi sekitar 30.000 ton per tahun bila diterapkan secara nasional.

Target pemerintah adalah menurunkan total emisi sektor transportasi udara sebesar 2% pada 2030, selaras dengan komitmen Indonesia pada Perjanjian Paris. Implementasi awal di dua bandara akan menjadi pilot project untuk menguji efektivitas regulasi dan kesiapan infrastruktur.

Mekanisme pengawasan akan dilakukan melalui pelaporan bulanan dari maskapai serta audit independen yang ditunjuk Kementerian Perhubungan. Jika hasil pilot menunjukkan kepatuhan dan manfaat lingkungan, batas pencampuran dapat dinaikkan menjadi 5% pada 2032.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Budi Santoso, menyatakan, “Kebijakan ini bukan sekadar simbol, melainkan langkah konkrit untuk menjadikan industri penerbangan lebih berkelanjutan.” Dia menambahkan bahwa dukungan pemerintah akan mencakup insentif fiskal bagi produsen bioavtur domestik.

Pihak maskapai mengaku siap menyesuaikan operasional, dengan sebagian besar menganggap pencampuran 1% tidak menimbulkan perubahan signifikan pada performa pesawat. Sebagai contoh, maskapai Garuda Indonesia telah melakukan uji coba bioavtur pada rute domestik sejak 2023 dan melaporkan hasil yang memuaskan.

Produsen bioavtur lokal, PT Energi Hijau Nusantara, menilai kebijakan tersebut membuka pasar baru senilai miliaran rupiah. Perusahaan berencana meningkatkan kapasitas produksi menjadi 150.000 liter per bulan menjelang akhir 2026.

Di kawasan Asia‑Pasifik, negara seperti Australia dan Singapura sudah menerapkan standar pencampuran bioavtur antara 2% hingga 5% pada bandara utama. Indonesia berupaya mengejar ketertinggalan dengan memanfaatkan sumber biomassa domestik, termasuk kelapa sawit dan limbah pertanian.

Dampak ekonomi jangka panjang mencakup penciptaan lapangan kerja di sektor agribisnis, serta diversifikasi rantai pasok energi nasional. Selain itu, peningkatan penggunaan bioavtur diharapkan menurunkan ketergantungan pada bahan bakar fosil impor.

Namun, tantangan utama meliputi ketersediaan bahan baku yang konsisten dan kebutuhan sertifikasi kualitas yang ketat. Pemerintah berjanji mempercepat proses perizinan dan menyediakan fasilitas logistik untuk memastikan pasokan tetap stabil.

Bagi penumpang, transisi ke bioavtur tidak akan mempengaruhi tarif tiket secara langsung, namun citra hijau maskapai dapat meningkatkan kepuasan konsumen yang peduli lingkungan. Bandara yang menjadi pelopor juga dapat mempromosikan diri sebagai hub ramah lingkungan, menarik investasi tambahan.

Dengan pelaksanaan pada 2027, kebijakan bioavtur 1% diharapkan menjadi fondasi bagi target energi bersih yang lebih ambisius di sektor penerbangan Indonesia. Keberhasilan pilot project akan menjadi indikator penting bagi kebijakan serupa di masa mendatang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.