Media Kampung – Nur Kholis, anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menegaskan pentingnya menghindari perbedaan takwil ayat mutasyabihat sebagai pemicu perselisihan umat Islam.
Pernyataan itu disampaikan pada sesi tanya jawab Pengajian Tarjih yang dilaksanakan pada Rabu, 15 April 2026, di Yogyakarta.
Dalam forum tersebut, peserta menanyakan tentang penafsiran ayat-ayat sifat Allah, khususnya istilah “istiwa”, yang sering menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Nur Kholis menekankan bahwa perbedaan metodologi dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat tidak seharusnya dijadikan alasan untuk menjelekkan pihak lain.
Ia menuturkan bahwa keberagaman pendekatan ilmiah, bahasa Arab, serta konteks sejarah dapat menghasilkan tafsir yang sah selama tidak mengorbankan prinsip keesaan Allah.
“Kita harus senantiasa menjaga ukhuwah Islamiyah, bukan memecah belah karena perbedaan interpretasi,” ujar beliau dengan tegas.
Ia menambahkan bahwa penafsiran yang bersifat spekulatif harus dihindari, terutama bila dapat menimbulkan fitnah atau menyulut perpecahan.
Majelis Tarjih Muhammadiyah menegaskan pentingnya pendekatan takwil yang berlandaskan pada ilmu bahasa, ilmu hadis, serta konsensus ulama yang diakui.
Dalam konteks ayat-ayat sifat, Nur Kholis mengingatkan bahwa istilah “istiwa” sering dipahami secara metaforis, bukan literal, sehingga menuntut kajian mendalam.
Ia menolak pandangan yang mengaitkan istilah tersebut dengan bentuk fisik atau atribut material, karena hal itu bertentangan dengan konsep tauhid yang hakiki.
Pengajian tersebut juga menyoroti perlunya pendidikan tafsir yang inklusif di pesantren dan institusi keagamaan, agar generasi muda dapat membedakan antara perbedaan ilmiah dan perselisihan doktrinal.
Nur Kholis menutup sesi dengan ajakan agar seluruh elemen umat Islam memperkuat dialog konstruktif, mengedepankan niat tawakal, serta menolak segala bentuk provokasi yang dapat menjerumuskan ke dalam kebodohan.
Dengan demikian, perbedaan takwil ayat mutasyabihat diharapkan menjadi sarana memperkaya pemahaman, bukan pemicu konflik.
Kondisi terbaru menunjukkan bahwa Majelis Tarjih terus mengadakan workshop dan pelatihan takwil di berbagai kota, termasuk Surabaya dan Malang, untuk menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya toleransi dalam interpretasi Al‑Qur’an.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan