Media Kampung – 13 April 2026 | Gus Faiz Ungkap Hikmah Pentingnya Berbaik Sangka dari Kisah Penjual Rokok di Al‑Azhar, menekankan bahwa prasangka halus dapat mengaburkan kejernihan batin seseorang.

Cerita tersebut muncul setelah seorang penjual rokok di kawasan Al‑Azhar menanyakan sikap Gus Faiz terhadap seorang pembeli yang tampak mencurigakan.

Pada Rabu, 10 April 2024, Gus Faiz menerima laporan tentang insiden tersebut saat tengah memberikan ceramah di Masjid Al‑Azhar, Surabaya.

Ia kemudian mengundang penjual rokok itu ke ruang diskusi untuk menelaah sikap berbaik sangka.

Penjual rokok, yang dikenal dengan nama Hadi, mengaku sempat menilai pelanggan karena bau rokok yang menyengat dan penampilan yang kurang rapi.

Namun, Hadi menyadari bahwa penilaian itu bersifat superfisial setelah Gus Faiz menekankan pentingnya menahan prasangka.

“Kita harus menahan prasangka, karena hati yang bersih membuka pintu rahmat,” ujar Gus Faiz dalam percakapan itu.

Pernyataan tersebut disertai contoh Nabi Muhammad SAW yang selalu memberi kesempatan kepada orang lain.

Gus Faiz menambahkan bahwa berbaik sangka bukan sekadar sikap sosial, melainkan cermin kebersihan jiwa yang memengaruhi hubungan antarmanusia.

Ia mencontohkan ayat Al‑Qur’an yang menuntut umat beriman untuk tidak melompat kepada kesimpulan tanpa bukti.

Data internal lembaga dakwah mencatat bahwa sebanyak 68 % responden mengakui pernah menghakimi orang lain berdasarkan penampilan.

Angka tersebut menunjukkan perlunya edukasi berbaik sangka secara luas.

Penjual rokok Hadi mengaku merasa terharu setelah mendengar nasihat tersebut, dan berjanji akan memperlakukan setiap pelanggan dengan sikap terbuka.

Ia juga berencana mengurangi penjualan rokok demi kesehatan diri dan lingkungan.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh sekitar 150 jamaah yang mendengarkan penjelasan Gus Faiz secara langsung.

Para hadirin mencatat poin-poin penting dalam buku catatan mereka.

Sebagai konteks, Al‑Azhar Surabaya dikenal sebagai pusat pendidikan Islam yang mengajarkan nilai toleransi dan empati.

Lingkungan sekitar sering menjadi tempat interaksi antar‑umat dengan latar belakang beragam.

Gus Faiz menegaskan bahwa berbaik sangka dapat menurunkan tingkat konflik sosial di masyarakat.

Ia mengajak semua pihak, termasuk pedagang, untuk menanamkan nilai tersebut dalam praktik sehari‑hari.

Pada akhir pertemuan, Gus Faiz membagikan selebaran berisi ayat-ayat terkait berbaik sangka dan doa perlindungan.

Selebaran tersebut diharapkan menjadi bahan renungan bagi setiap pembaca.

Beberapa media lokal melaporkan bahwa cerita ini cepat menyebar di media sosial, menimbulkan diskusi hangat tentang pentingnya menahan prasangka.

Beberapa netizen menambahkan pengalaman pribadi serupa dalam komentar mereka.

Penelitian psikologi sosial menunjukkan bahwa prasangka dapat menurunkan kepuasan hidup hingga 12 %.

Oleh karena itu, nasihat Gus Faiz selaras dengan temuan ilmiah yang mendukung kesejahteraan mental.

Pihak Masjid Al‑Azhar berencana mengadakan program pelatihan berbaik sangka secara rutin setiap tiga bulan.

Program tersebut akan melibatkan ulama, psikolog, dan tokoh masyarakat.

Pada minggu berikutnya, Gus Faiz akan melanjutkan ceramah di Kota Malang dengan tema serupa, menargetkan audiens yang lebih luas.

Ia berharap pesan berbaik sangka dapat menjadi bagian integral kehidupan umat.

Kondisi terbaru menunjukkan peningkatan kesadaran di kalangan pedagang kecil di Surabaya, yang mulai menerapkan sikap empatik dalam berinteraksi dengan pelanggan.

Observasi lapangan mencatat penurunan konflik kecil di pasar tradisional.

Dengan menahan prasangka, masyarakat diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan produktif, sejalan dengan nilai-nilai Islam yang mengedepankan kasih sayang.

Gus Faiz menutup pernyataannya dengan harapan semua orang menjadi pribadi yang lebih baik.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.