Media Kampung – 12 April 2026 | Aisyiyah membuka ruang dakwah inklusif dengan memperkuat perspektif Tarjih Muhammadiyah, sebagaimana disampaikan oleh Sekretaris Umum PP Aisyiyah, Hastuti Nur Rochimah, pada Sabtu, 11 April 2026 di Yogyakarta.
Acara tersebut merupakan bagian dari #GerakanPerempuanMengaji: Kajian Perempuan Berkemajuan Perspektif Tarjih, yang menargetkan peningkatan kompetensi mubalighat Aisyiyah dalam menyampaikan pesan Islam secara adil dan berkeadilan.
Tarjih, yang merupakan metodologi penafsiran hukum Islam, dipilih karena kemampuannya menyeimbangkan antara tradisi dan konteks kontemporer, sehingga dapat menjangkau kelompok rentan yang sering terpinggirkan.
Pembukaan acara menegaskan komitmen Aisyiyah untuk menumbuhkan pemahaman keagamaan yang bersifat universal, tanpa mengesampingkan nilai-nilai kearifan lokal.
Dalam sesi pertama, para mubalighat diberikan materi tentang sejarah Tarjih dalam tradisi Muhammadiyah, serta aplikasinya dalam konteks sosial‑ekonomi modern.
Materi tersebut disampaikan oleh Dr. Ahmad Fauzi, M.A., seorang pakar fiqh Muhammadiyah, yang menekankan pentingnya menyesuaikan ijtihad dengan realitas masyarakat saat ini.
Para peserta juga diminta melakukan simulasi penyampaian dakwah menggunakan pendekatan Tarjih, untuk menguji kemampuan mereka dalam merespons permasalahan aktual.
Hasil simulasi menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan menyampaikan pesan yang empatik, khususnya kepada perempuan, pemuda, dan kelompok marginal.
Data internal Aisyiyah mencatat bahwa sejak awal tahun 2026, terdapat peningkatan partisipasi perempuan dalam program dakwah sebesar 27 persen, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka ini dianggap sebagai indikator positif dari kebijakan inklusif yang diusung oleh PP Aisyiyah melalui perspektif Tarjih.
Selain materi teoritis, acara juga menampilkan sesi dialog terbuka, di mana para mubalighat dapat mengajukan pertanyaan terkait tantangan lapangan.
Beberapa pertanyaan yang muncul antara lain mengenai strategi menghadapi radikalisme, serta cara mengintegrasikan nilai-nilai keadilan gender dalam dakwah.
Hastuti Nur Rochimah menanggapi dengan menekankan perlunya kolaborasi lintas organisasi keagamaan untuk menciptakan lingkungan yang aman dan toleran.
Ia juga menambahkan bahwa Aisyiyah berkomitmen menyediakan pelatihan lanjutan bagi mubalighat yang menunjukkan potensi unggul dalam penggunaan Tarjih.
Pada penutupan, disampaikan bahwa gerakan ini akan dilanjutkan dengan serangkaian workshop regional di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara.
Rencana tersebut mencakup pelatihan intensif selama tiga hari, dengan melibatkan pakar-pakar fiqh dan praktisi sosial untuk memperkaya materi.
Penguatan perspektif Tarjih diharapkan dapat menjadi fondasi bagi Aisyiyah dalam menanggapi dinamika sosial, seperti peningkatan kemiskinan dan ketidaksetaraan gender.
Dengan demikian, ruang dakwah yang inklusif tidak hanya menjadi slogan, melainkan realitas yang terukur melalui indikator partisipasi dan dampak sosial.
Para mubalighat yang mengikuti acara ini akan melaporkan hasil implementasi di wilayah masing‑masing dalam tiga bulan ke depan.
Laporan tersebut akan menjadi bahan evaluasi untuk menyesuaikan kurikulum Tarjih agar lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Secara keseluruhan, inisiatif ini mencerminkan upaya strategis Aisyiyah dalam memperkuat peran perempuan sebagai agen perubahan dalam masyarakat Indonesia.
Kebijakan ini selaras dengan visi Muhammadiyah yang menekankan pendidikan, sosial, dan keadilan sebagai pilar utama.
Penguatan perspektif Tarjih juga mendukung agenda nasional dalam menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan harmonis.
Dalam konteks kebijakan pemerintah, program ini dapat menjadi contoh model kolaboratif antara organisasi keagamaan dan lembaga publik.
Ke depannya, Aisyiyah berencana memperluas kerja sama dengan lembaga pendidikan tinggi untuk penelitian lebih lanjut tentang efektivitas Tarjih dalam dakwah modern.
Langkah ini diharapkan menghasilkan publikasi ilmiah yang dapat menjadi acuan bagi organisasi keagamaan lain di wilayah Asia Tenggara.
Dengan komitmen kuat dan dukungan luas, Aisyiyah berkeyakinan bahwa ruang dakwah inklusif berbasis Tarjih akan terus berkembang dan memberi manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan