Media Kampung, Sidoarjo – Nurul Huda telah mengabdikan dirinya selama 44 tahun dalam melestarikan batik tulis khas Sidoarjo. Berawal dari modal Rp50 ribu yang diberikan keluarganya pada tahun 1982 saat masih pelajar SMA, ia berhasil mengembangkan usaha batik yang kini dikenal luas dan berkontribusi pada pelestarian budaya sekaligus pemberdayaan masyarakat.
Perjalanan Nurul Huda dimulai saat ia membeli kain dan mencoba membuat batik secara sederhana. Meski tanpa kemampuan desain dan pemasaran yang memadai, ia menawarkan hasil karyanya kepada guru-guru di sekolah. Keberhasilan menjual batik tersebut membantunya membiayai pendidikan hingga ke perguruan tinggi.
Pengembangan Usaha dan Pelatihan Batik
Setelah lulus kuliah dan sempat menjadi dosen, Nurul Huda tidak meninggalkan usaha batik. Ia mengajak beberapa orang untuk membantunya dalam proses produksi dan mengembangkan pasar hingga ke berbagai daerah di Jawa Timur seperti Surabaya, Madura, dan Malang. Pada tahun 2010, jumlah pekerjanya mencapai sekitar 50 orang.
Melihat sentra batik di Sidoarjo mulai berkurang aktivitasnya, Nurul khawatir akan hilangnya pengetahuan membatik yang tidak diturunkan ke generasi muda. Untuk mengatasi hal ini, ia membuka pelatihan membatik yang mencakup desain, pencantingan, pewarnaan, hingga pembuatan pakaian batik. Pelatihan ini menarik peserta dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga mahasiswa dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Peran dalam Pelestarian Batik Jawa Timur
Nurul Huda juga berperan aktif dalam pengembangan batik di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur. Melalui pelatihan dan pendampingan, ia membantu daerah-daerah tersebut menciptakan identitas batik masing-masing. Keterlibatannya dalam kegiatan ini berlangsung selama lebih dari satu dekade, turut mendukung penyebaran budaya batik di seluruh Jawa Timur.
Keunikan dan Harga Batik Tulis Al-Huda
Di Galeri Batik Tulis Al-Huda, Nurul menawarkan kain batik dengan harga mulai dari Rp200 ribu hingga lebih dari Rp5 juta, tergantung bahan, desain, dan tingkat pengerjaan. Beberapa motif dibuat secara terbatas dengan jumlah hanya beberapa lembar untuk menjaga nilai eksklusifitas.
Batik tulis yang dibuat secara manual menggunakan canting dan malam membutuhkan ketelitian tinggi. Prosesnya meliputi pembuatan desain, pencantingan, pencoletan warna, fiksasi, pewarnaan dasar, pelorodan, serta penjemuran setelah malam dilepaskan. Pewarna yang digunakan bisa alami dari tanaman maupun sintetis.
Strategi Promosi dan Pemberdayaan Penyandang Disabilitas
Nurul Huda mengandalkan promosi dari mulut ke mulut dan jaringan pelanggan. Ia juga memberikan kesempatan kerja kepada penyandang disabilitas di galeri batiknya. Menurutnya, dengan memberikan ruang bagi mereka yang memiliki keterbatasan untuk belajar dan bekerja, mereka dapat berkembang dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Tantangan dan Harapan Pelestarian Batik
Memasuki era modern, tantangan terbesar pelestarian batik bukan hanya persaingan dengan produk batik printing, tetapi bagaimana membuat generasi muda tetap mengenal dan mencintai budaya membatik. Nurul mendorong kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha batik melalui pameran, pelatihan, festival, dan kebijakan penggunaan batik sebagai upaya menjaga keberlangsungan industri batik.
Perjalanan Nurul Huda selama lebih dari empat dekade menunjukkan bagaimana keterampilan tradisional dapat menjadi sumber penghidupan, membuka lapangan kerja, dan menjadi ruang pembelajaran sekaligus pemberdayaan sosial. Usahanya memastikan ilmu dan tradisi membatik tidak hilang ditelan zaman.














Tinggalkan Balasan