Media Kampung – Pagi hari di pesisir Cilincing, Jakarta Utara, masih diwarnai oleh suara mesin kapal dan deburan ombak. Namun, ketenangan yang dulu dirasakan nelayan mulai tergantikan oleh aktivitas pembangunan kawasan industri dan pelabuhan besar yang semakin ramai. Di wilayah Kalibaru dan Marunda, kapal-kapal besar berlalu-lalang sepanjang hari, menandai perubahan nyata yang membuat laut semakin menyempit.

Di tengah dinamika tersebut, Muhammad Tahir, Ketua Paguyuban Nelayan Cilincing, terus memperjuangkan keberlangsungan hidup nelayan tradisional di Jakarta Utara. Baginya, laut bukan hanya sumber penghidupan, melainkan juga bagian dari identitas dan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Nelayan sebenarnya tidak menolak pembangunan, kami memahami negara sedang berproses maju. Namun, pembangunan tidak boleh menghilangkan ruang hidup kami yang sudah ada sejak lama,” ujar Tahir saat ditemui di pesisir, Jumat, 22 Mei 2026.

Tahir mengenang masa-masa ketika nelayan hanya perlu mendayung beberapa ratus meter dari pantai untuk mendapatkan ikan dengan mudah. Kondisi laut yang masih jernih dan area tangkap yang tidak terlalu jauh membuat aktivitas melaut lebih ringan. Kini, mereka harus berlayar jauh lebih jauh demi memperoleh hasil tangkapan yang layak, sementara biaya operasional terus meningkat.

Selain jarak tangkap yang bertambah, nelayan menghadapi tantangan lain seperti kondisi air yang sering keruh dan akses pelabuhan yang terbatas. Banyak perahu nelayan masih harus menambat di muara sungai yang dangkal, yang pada saat musim barat tertutup sedimen sehingga menghambat keluar masuk kapal. Hal ini menyebabkan aktivitas melaut sering terhenti beberapa hari.

“Saat musim barat datang, muara sungai tertutup sedimen sehingga kapal tidak bisa keluar. Karena itu, pembangunan pelabuhan khusus nelayan sangat penting bagi kami,” jelas Tahir menambahkan pentingnya fasilitas yang mendukung keberlangsungan aktivitas nelayan.

Bagi Tahir, pelabuhan nelayan bukan sekedar tempat berlabuh kapal. Ia membayangkan sebuah kawasan ekonomi pesisir yang mampu menyediakan fasilitas pelelangan ikan, cold storage, dan pusat kegiatan ekonomi bagi masyarakat nelayan. Dengan fasilitas yang memadai, nelayan bisa lebih bertahan menghadapi perubahan zaman dan tekanan pembangunan.

Tahir juga menyoroti kebutuhan akan alat tangkap dan kapal yang lebih modern untuk menyesuaikan dengan area tangkap yang semakin jauh. Selain itu, akses terhadap bahan bakar minyak (BBM) subsidi yang lebih mudah sangat diperlukan untuk mengurangi beban operasional nelayan kecil.

Walau menghadapi tekanan dari pembangunan dan keterbatasan ruang laut, Tahir memilih jalur dialog dengan pemerintah dan pengembang kawasan untuk mencari solusi terbaik tanpa menimbulkan konflik. Ia berharap aspirasi nelayan tetap didengar dan diperhatikan dalam perencanaan pembangunan pesisir.

Dalam pandangan komunitas nelayan, Muhammad Tahir dianggap lebih dari sekadar ketua paguyuban. Ia menjadi simbol perjuangan masyarakat pesisir untuk mempertahankan ruang hidup mereka di tengah gempuran pembangunan yang terus berlangsung.

Kondisi laut yang dulu mudah dijangkau kini terasa semakin jauh bagi nelayan Jakarta Utara. Namun, melalui perjuangan dan harapan yang terus dipupuk oleh Tahir, masyarakat pesisir berusaha tetap bertahan agar nelayan tradisional tidak punah di tengah perkembangan kota yang pesat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.