Media Kampung – Seorang ibu berusia 38 tahun yang tinggal di Kelurahan Tulung, Kecamatan Klaten, meninggal dunia pada Minggu (7/5/2026) setelah terperosok ke septic tank milik tetangga dan tertimbun tanah selama lima jam, menurut keterangan resmi Kapolsek Tulung, Kombes Pol. Agus Wibowo.

Kejadian bermula sekitar pukul 09.30 WIB ketika korban sedang membantu membersihkan pekarangan rumah tetangga. Saat mengangkat tutup septic tank, ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke dalam bak yang berisi limbah cair setengah penuh. Karena tutup tidak terkunci rapat, tanah di sekeliling bak melorot menutupi sebagian besar tubuhnya.

Tim penyelamat yang dipimpin oleh Satgas Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten serta unit SAR Polsek Tulung tiba di lokasi sekitar pukul 10.00 WIB. Upaya penggalian dimulai pada pukul 11.15 WIB, namun kondisi tanah yang basah dan berpasir menghambat proses. Setelah lebih dari dua jam bekerja keras dengan peralatan penggali manual, tim berhasil menemukan kepala korban pada pukul 14.45 WIB.

Setelah ditemukan, korban segera dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Klaten menggunakan mobil ambulans. Tim medis menyatakan korban mengalami henti napas, henti jantung, serta luka mekanik pada tungkai kaki akibat terjepit tanah. Upaya resusitasi dilakukan selama tiga puluh menit, namun nyawanya tidak dapat diselamatkan.

Kombes Pol. Agus menegaskan bahwa penyebab kematian adalah kombinasi hipoksia karena terperosok dalam limbah cair, serta trauma mekanik akibat tertimbun tanah selama lima jam. “Tidak ada indikasi tindakan kriminal atau kekerasan. Kasus ini murni kecelakaan yang terjadi karena kurangnya perhatian terhadap keamanan septic tank,” ujarnya dalam konferensi pers di kantor Polsek Tulung.

BPBD Klaten menambahkan bahwa struktur septic tank di daerah tersebut belum memenuhi standar teknis yang direkomendasikan Kementerian PUPR. “Kami akan melakukan inspeksi menyeluruh pada semua instalasi sanitasi di wilayah Tulung dan memberikan rekomendasi perbaikan, termasuk pemasangan penutup yang aman dan penandaan area berbahaya,” kata Kepala BPBD Klaten, Ir. Siti Maulani.

Menurut data kepolisian, selama tahun 2026 terdapat tiga kasus serupa di Kabupaten Klaten yang melibatkan kecelakaan di septic tank, dua di antaranya berakibat fatal. Pihak berwenang mengingatkan kepada masyarakat untuk selalu memastikan penutup septic tank terpasang rapat serta menghindari aktivitas di sekitar instalasi tersebut tanpa perlindungan yang memadai.

Warga setempat yang mengetahui kejadian tersebut menyatakan keprihatinan atas kurangnya edukasi keamanan lingkungan. “Kami berharap pihak desa dan pemerintah kabupaten lebih giat dalam sosialisasi cara penggunaan dan perawatan septic tank,” ujar Bapak Joko, ketua RT setempat.

Polisi masih melakukan penyelidikan lanjutan untuk memastikan tidak ada kelalaian struktural yang melanggar peraturan bangunan. Sementara itu, keluarga korban telah menerima bantuan sementara dari Dinas Sosial Kabupaten Klaten, termasuk santunan duka cita dan bantuan psikologis.

Kasus ini menimbulkan perdebatan mengenai standar sanitasi di daerah pedesaan Jawa Tengah. Para ahli kesehatan lingkungan menekankan pentingnya pemeliharaan rutin serta penggunaan material yang kuat untuk mencegah runtuhnya struktur septic tank, terutama di wilayah dengan tanah berpasir dan curah hujan tinggi.

Hingga kini, jenazah korban masih berada di rumah duka di Klaten, sementara proses administrasi pemakaman sedang diurus oleh keluarga dan otoritas setempat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.