Media Kampung – Banyuwangi menguatkan Penguatan Peran Perempuan melalui Rembug Kartini yang digelar pada 21 April, menandai komitmen daerah pada pembangunan inklusif. Acara tersebut menyoroti peran sentral perempuan dalam ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.
Rembug diadakan di Aula Minak Jinggo, Kantor Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, tepat pada Selasa (21/4) bersamaan dengan peringatan Hari Kartini. Kegiatan ini menandai pergeseran dari simbolik batik dan kebaya ke dialog kebijakan berbasis gender.
Acara itu dihadiri puluhan perempuan dari organisasi kemasyarakatan, keagamaan, tenaga kesehatan, pelaku UMKM, komunitas literasi, dan pendamping sosial. Perwakilan PKK, Aisyiyah, Muslimat NU, perkumpulan agama lain, serta Kongres Ulama Perempuan Indonesia turut berpartisipasi.
Ipuk, kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, menegaskan bahwa “kemajuan daerah tidak akan tercapai tanpa keterlibatan aktif perempuan”. Ia menambahkan bahwa kebijakan harus berpihak pada perempuan dan anak sesuai visi Kartini.
Rembug dibagi menjadi empat kelompok utama: literasi digital, kesehatan jiwa, pemberdayaan ekonomi, dan bisnis kreatif. Setiap kelompok dipandu fasilitator untuk mengumpulkan masukan konkret.
Suyanto Waspotondo, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, menjelaskan bahwa kelompok telah melakukan kunjungan ke OPD untuk memperoleh insight. Setelah itu, mereka berdiskusi dan menyusun rekomendasi perencanaan daerah.
Berbagai aspirasi muncul, termasuk permintaan pelatihan literasi digital bagi anak dan orang tua. Salah satu usulan menekankan pentingnya saluran konsultasi dan pengaduan kasus kekerasan digital.
“Untuk mendukung produktivitas perempuan, kami usulkan peningkatan kapasitas penggunaan media sosial, literasi keuangan, dan keamanan digital,” ujar Zulfi Zumala dari KUPI. Pernyataan tersebut menggambarkan kebutuhan keterampilan era digital.
Program “Kanggo Riko” yang telah digulirkan pemerintah kabupaten menjadi contoh konkret pemberdayaan ekonomi kepala keluarga perempuan. Inisiatif ini menyediakan modal usaha kecil dan pelatihan keterampilan.
Selain itu, kelompok kesehatan jiwa mengusulkan pembentukan hotline kesehatan mental khusus perempuan dan anak. Upaya ini diharapkan menurunkan stigma serta meningkatkan akses layanan.
Kelompok bisnis kreatif mengajukan pelatihan ekonomi kreatif, termasuk desain produk lokal dan pemasaran digital. Dukungan ini diharapkan meningkatkan daya saing UMKM perempuan di pasar regional.
Ipuk berharap hasil rembug menghasilkan gagasan segar yang menjadikan perempuan Banyuwangi berdaya, mandiri, sehat, cerdas, dan sejahtera. Ia menekankan peran perempuan sebagai penyangga keluarga dan penggerak ekonomi.
Pemerintah daerah berkomitmen menindaklanjuti semua rekomendasi dalam penyusunan RPJMD 2025-2030. Pelaksanaan akan dipantau melalui forum koordinasi lintas sektor.
Kepala Desa yang hadir menilai bahwa forum ini membuka ruang dialog yang sebelumnya kurang terstruktur. Mereka berjanji menyuarakan hasil rembug di tingkat desa.
Sejumlah lembaga seperti Ikatan Bidan Indonesia dan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia juga berjanji menyediakan pelatihan lanjutan. Kolaborasi ini diharapkan mempercepat transfer pengetahuan.
Dengan mengintegrasikan aspirasi digital, kesehatan, dan ekonomi, Banyuwangi menyiapkan kebijakan berbasis data. Pendekatan ini selaras dengan agenda nasional tentang gender dan pembangunan berkelanjutan.
Rembug ini menandai langkah strategis daerah dalam menghidupkan semangat Kartini secara nyata. Penguatan Peran Perempuan menjadi pilar utama agenda pembangunan Banyuwangi ke depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan