Media Kampung – Warga di Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, harus mengandalkan gotong royong untuk membersihkan sisa material banjir karena alat berat tidak dapat masuk ke lokasi terdampak. Kendala akses sempit menjadi penghambat utama bagi petugas dalam menangani pascabanjir di wilayah tersebut.
Banjir melanda wilayah Senduro, Gucialit, dan Pasrujambe setelah hujan deras mengguyur sejak Kamis malam, 14 Mei 2026. Kejadian ini menyebabkan tanggul Sungai Menjangan di Desa Kutorenon jebol dan air meluap ke permukiman warga hingga merendam rumah-rumah di Dusun Biting I Gang Kemiri. Ketinggian air bahkan mencapai 120 sentimeter pada Jumat dini hari, 15 Mei 2026.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Isnugroho, menyampaikan bahwa sebagian besar dampak parah dirasakan di Dusun Biting, Desa Kutorenon. Ia menjelaskan bahwa kondisi jalan yang sempit membuat alat berat jenis loader tidak bisa menjangkau lokasi sehingga pembersihan material banjir harus dilakukan secara manual dengan melibatkan warga dan petugas gabungan.
BPBD mencatat setidaknya 300 kepala keluarga di RW 08, 09, dan 10 terdampak banjir. Lumpur dan material sisa luapan sungai menumpuk di jalan lingkungan dan halaman rumah, menghambat aktivitas sehari-hari warga. Keterlibatan masyarakat dalam proses pembersihan terbukti mempercepat penanganan di lapangan, terutama dalam membersihkan lumpur yang mengganggu.
Selain merusak permukiman, banjir juga membawa dampak pada lahan pertanian dan peternakan warga setempat. Hingga kini, pendataan kerusakan terus dilakukan bersama instansi terkait untuk menentukan langkah pemulihan yang tepat.
BPBD bersama pemerintah desa, Forkopimca Sukodono, Dinas Sosial, PSC 119 Dinkes P2KB, dan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Lumajang terus melakukan upaya penanganan dan asesmen di lokasi terdampak banjir. Proses ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan kondisi masyarakat yang terdampak.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan