Media Kampung, Kediri – Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) Komisariat Kediri dan Madiun menggelar Financial Journalist Class Sesi 2 pada 27 Agustus 2026 sebagai upaya memperkuat literasi dan inklusi keuangan syariah yang stagnan di wilayah Kediri dan Madiun. Kegiatan ini menghadirkan jurnalis dari berbagai media se-Kediri dan Madiun Raya untuk mendalami perkembangan industri jasa keuangan syariah serta data terbaru dari Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026.
Kepala OJK Kediri sekaligus Pembina FKIJK Kediri-Madiun, Ismirani Saputri, menyampaikan bahwa meskipun indeks literasi dan inklusi keuangan secara umum mengalami peningkatan, sektor keuangan syariah justru menunjukkan tren stagnan bahkan cenderung menurun. Data nasional mencatat indeks literasi keuangan syariah sebesar 43,07 persen dan inklusi 13,24 persen, jauh di bawah indeks nasional literasi dan inklusi keuangan konvensional yang masing-masing mencapai 69,57 persen dan 93,61 persen. Di Jawa Timur, literasi syariah berada pada angka 43,41 persen dengan inklusi hanya 12,64 persen.
Peran Sinergi dalam Pengembangan Keuangan Syariah
Ismirani menekankan bahwa porsi lembaga keuangan syariah saat ini masih relatif kecil dibandingkan dengan lembaga konvensional, namun hal ini menjadi peluang untuk memperluas akses dan literasi masyarakat terhadap produk keuangan syariah. Pengembangan sektor ini membutuhkan kolaborasi erat antara OJK, pemerintah daerah, pelaku usaha, media, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya agar masyarakat dapat lebih mengenal, memahami, dan memanfaatkan layanan keuangan syariah.
Data struktur industri di wilayah kerja OJK Kediri menunjukkan dari 65 bank umum, hanya 8 unit yang berbasis syariah (12,3 persen). Dari 62 Bank Perkreditan Rakyat (BPR), terdapat 9 Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) yang berkontribusi 14,5 persen, dan 4 Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) dari total 17 lembaga mikro (23,5 persen).
Kinerja Positif dan Inovasi Produk Keuangan Syariah
Area Manager BSI Kediri, Angga Wahyuda Prawiroso, melaporkan pertumbuhan signifikan di sektor keuangan syariah dengan kenaikan nasabah baru sebesar 15,03 persen per Juli 2026, peningkatan dana haji sebesar 16,73 persen, serta lonjakan nasabah dan berat gramasi pada produk Tabungan Emas masing-masing 1.175,30 persen dan 152,37 persen. Layanan digital BYOND by BSI juga mendukung kemudahan akses produk keuangan syariah bagi masyarakat.
Sementara itu, Regional Manager PT Adira Multi Finance Tbk Area Jawa Timur, Ahmad Syauqi, menyampaikan bahwa penyaluran pembiayaan syariah Adira Finance mencapai Rp9,8 triliun pada tahun 2025, memberikan kontribusi 23 persen terhadap total pembiayaan baru perusahaan. Direktur Utama PT BPRS Tunas Artha Jaya Abadi, Triyas Nurzain, menambahkan bahwa outstanding pembiayaan BPRS mencapai Rp56 miliar per Juni 2026, dengan alokasi Rp27 miliar untuk pembiayaan modal kerja pelaku usaha mikro di wilayah Kediri dan sekitarnya.
Peran Media dalam Meningkatkan Kesadaran Keuangan Syariah
FKIJK berharap melalui kegiatan Financial Journalist Class yang melibatkan insan pers, informasi mengenai perkembangan, produk, dan layanan keuangan syariah dapat tersampaikan dengan tepat dan berimbang kepada masyarakat. Sinergi ini diharapkan dapat mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah secara signifikan di Kediri dan Madiun.














Tinggalkan Balasan