Media Kampung – Komunitas Tanoker Ledokombo kembali mengadakan Festival Egrang ke-14 sebagai sarana mengekspresikan kreativitas masyarakat sekaligus mempertahankan permainan tradisional yang sudah turun-temurun. Acara ini diselenggarakan di Jember pada Sabtu, 9 Mei 2026, dengan melibatkan berbagai kalangan dari anak-anak hingga lansia.
Farha Ciciek, Direktur Tanoker, menjelaskan bahwa Festival Egrang tidak sekadar pertunjukan seni budaya, melainkan juga menjadi wadah pameran karya pelajar dari tingkat SD hingga SMP dan komunitas seni. “Festival Egrang kami dedikasikan untuk masyarakat agar bisa berekspresi melalui karya seni, keterampilan, kuliner, hingga inovasi budaya,” ujarnya saat launching acara di Pasar Lumpur Sumber Lesung, Ledokombo.
Launching festival ini dikemas secara inklusif dengan beragam kegiatan seperti lomba mewarnai untuk anak-anak, lomba senam bagi lansia, penyajian kuliner tradisional, serta pameran kerajinan ramah lingkungan. Ciciek menegaskan bahwa semua elemen masyarakat dilibatkan mulai dari anak-anak, ibu-ibu, lansia, hingga pelaku UMKM serta komunitas seni.
Acara puncak Festival Egrang akan berlangsung pada 1 Agustus 2026, sedangkan launching yang bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan permainan tradisional di tengah perkembangan era digital.
Kerja sama Tanoker dalam penyelenggaraan festival melibatkan berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Jember, Bank Indonesia, dan Kementerian Komunikasi dan Digital. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, hadir sebagai keynote speaker dengan membahas tema permainan tradisional di era digital.
Ciciek menilai pentingnya revitalisasi permainan tradisional agar tetap relevan dengan generasi muda di tengah derasnya arus digitalisasi. Sejak 2024, Tanoker telah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Jember melalui program sekolah prototipe yang mengintegrasikan permainan egrang dalam modul pembelajaran sekolah. Awalnya program ini melibatkan 12 sekolah, namun pada festival tahun lalu jumlah peserta meningkat menjadi 20 sekolah dan empat komunitas seni.
Festival Egrang juga diharapkan dapat mendorong perekonomian masyarakat lewat keterlibatan pelaku kuliner dan kerajinan lokal di kawasan Pasar Lumpur. Selain permainan egrang, festival ini menghadirkan berbagai permainan tradisional lain seperti polo lumpur, tarung bantal, balap bakiak, dan outbound yang melibatkan partisipasi langsung masyarakat.
Farha Ciciek berharap festival ini terus menjadi wadah pendidikan karakter, mempererat jejaring antar sekolah dan komunitas, serta menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal. Festival Egrang ke-14 ini tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk aktif berpartisipasi dan menjaga warisan budaya Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan