Media Kampung – Pusat Studi Gender Universitas Jember menyelenggarakan diskusi partisipatif “Menghadirkan Kartini: Bergerak Tanpa Batas, Sehat Tanpa Syarat, Bergerak Tanpa Takut” pada 24 April 2026 di BRI WORK UNJ, menegaskan kembali semangat Kartini dalam konteks modern.

Kegiatan ini membuka ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman, gagasan, serta keresahan terkait isu-isu gender yang masih mengakar dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu fokus utama adalah pendidikan, dimana data menunjukkan kesenjangan akses dan representasi perempuan masih signifikan, terutama pada jenjang menengah dan tinggi.

Kurangnya kebijakan kurikulum yang responsif gender memperparah ketimpangan, sehingga perempuan seringkali mengalami hambatan dalam mengejar prestasi akademik.

Bidang kesehatan perempuan juga menjadi sorotan, dengan hak atas layanan kesehatan yang masih belum terjamin secara merata, khususnya layanan reproduksi.

Angka kematian ibu tetap tinggi dan edukasi kesehatan komprehensif masih minim, menandakan perlunya intervensi yang lebih kuat.

Fenomena pernikahan dini dibahas secara kritis, mengingat dampaknya yang merusak pendidikan, peluang ekonomi, serta meningkatkan risiko kekerasan dalam rumah tangga.

Faktor budaya, ekonomi, dan lemahnya penegakan hukum menjadi penyebab utama praktik ini tetap bertahan hingga kini.

Data Komnas Perempuan mencatat 376.529 kasus kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2025, naik 14,07% dibandingkan tahun sebelumnya.

Kekerasan seksual mendominasi dengan 37,51%, diikuti kekerasan psikis 32,48%, fisik 18,93%, dan ekonomi 11,07%; hampir 90% terjadi di lingkungan rumah tangga.

Situasi ini memunculkan pertanyaan tentang keberadaan ruang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri tanpa rasa takut.

Linda Dwi Eriyanti, Ketua PSG UNJ, menegaskan, “Kami mengajak perempuan untuk terus melampaui hambatan, bahwa hidup perempuan berharga, kesehatan dan hidup tanpa khawatir adalah hak tanpa perkecualian.”

Diskusi menyoroti bahwa perjuangan Kartini belum selesai, karena norma patriarkal masih mengikat pilihan hidup perempuan di era digital.

Meski suara perempuan kini lebih terdengar melalui media sosial, kualitas dampak kebijakan publik masih dipertanyakan.

Partisipasi politik perempuan menunjukkan peningkatan kuantitatif, namun kualitas pengaruh masih terbatas dan sering bersifat simbolik.

Para peserta menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan kebijakan yang inklusif dan mengurangi kesenjangan gender.

Kondisi terbaru menunjukkan bahwa PSG UNJ berencana meluncurkan program pelatihan kepemimpinan bagi perempuan muda, sebagai tindak lanjut konkret dari diskusi tersebut.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.