Media Kampung – Akses Terputus, FAJI dan Relawan Bantu Pelajar Menyeberang Sungai di Jubung, Jember setelah jembatan penghubung rusak, memastikan siswa tetap dapat bersekolah. Pemerintah desa bersama pihak terkait mengambil langkah darurat dengan menyiapkan perahu karet sebagai sarana penyeberangan sementara.
Jembatan yang menghubungkan Desa Jubung di Kecamatan Sukorambi runtuh akibat banjir pada awal April 2026, memutuskan akses utama bagi warga dan pelajar. Kerusakan tersebut menambah beban perjalanan, karena alternatif jalur memerlukan putaran jauh dan menambah biaya transportasi.
Pemerintah desa segera mengkoordinasikan bantuan dengan Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) dan kelompok Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala). Kedua organisasi menyediakan perahu karet berkapasitas enam orang yang dioperasikan setiap pagi dan sore hari.
Perahu karet tersebut beroperasi pada jam berangkat dan pulang sekolah, sehingga pelajar tidak perlu menyeberang sendiri dalam kondisi berbahaya. Keberadaan perahu juga mengurangi risiko kecelakaan di sungai yang deras.
Ketua Harian FAJI, Erwin Kurniawan, menjelaskan bahwa keterlibatan mereka merupakan bentuk kepedulian sosial terhadap masyarakat terdampak. “Kami ingin memastikan anak‑anak tetap bisa bersekolah tanpa harus terhambat oleh kondisi infrastruktur yang rusak,” ujarnya kepada PPID Pemkab Jember.
Relawan Mapala turut membantu dengan menjaga keamanan selama proses penyeberangan. Mereka menyiapkan tali pengaman dan memantau kondisi cuaca untuk menghindari bahaya tambahan.
Selain memfasilitasi penyeberangan, tim FAJI dan Mapala juga memberikan edukasi singkat tentang keselamatan di atas air kepada para penumpang. Edukasi ini meliputi cara memegang pegangan dan prosedur evakuasi darurat.
Warga desa menyatakan rasa lega atas solusi sementara ini, namun menekankan bahwa perbaikan permanen tetap menjadi kebutuhan mendesak. Jalan utama tersebut merupakan akses vital bagi aktivitas pendidikan dan perekonomian lokal.
Rencana pembangunan kembali jembatan gantung telah masuk tahap pengadaan. Camat Sukorambi, Musyafak, menyampaikan bahwa proses administrasi sedang diproses dan diharapkan selesai dalam waktu dua minggu.
Musyafak menambahkan bahwa pemerintah Provinsi Jawa Timur akan menjadi pelaksana utama pembangunan jembatan baru. Pihak provinsi sedang menyiapkan anggaran dan tenaga ahli untuk mempercepat penyelesaian.
Sementara itu, perahu karet tetap menjadi satu‑satunya sarana penyeberangan hingga jembatan selesai dibangun. Operasional perahu dipantau oleh aparat desa untuk memastikan jadwal tetap tepat waktu.
Data desa menunjukkan bahwa sekitar 150 pelajar berusia 6‑15 tahun menggunakan perahu setiap hari. Sebelum jembatan runtuh, mereka biasanya menyeberang dalam hitungan menit.
Penggunaan perahu menambah waktu tempuh rata‑rata menjadi 15 menit, termasuk menunggu perahu. Meskipun demikian, warga menilai hal tersebut lebih aman dibandingkan menyeberang secara mandiri.
Pemerintah desa berkomitmen menyediakan bahan bakar dan perawatan rutin untuk perahu selama masa transisi. Anggaran tambahan sebesar Rp 25 juta dialokasikan untuk keperluan ini.
FAJI juga mengirimkan beberapa anggota berpengalaman untuk melatih relawan lokal dalam pengoperasian perahu. Pelatihan meliputi teknik mendayung, prosedur keselamatan, dan penanganan situasi darurat.
Dengan kolaborasi ini, akses pendidikan di desa tidak terhenti meski infrastruktur utama masih rusak. Pihak terkait berharap solusi sementara dapat berfungsi hingga akhir Juni 2026.
Kondisi terbaru menunjukkan bahwa proses lelang kontraktor akan selesai pada pertengahan April, dan pembangunan jembatan diperkirakan selesai pada akhir tahun 2026. Sementara itu, perahu karet tetap beroperasi setiap hari.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan