Media Kampung – 17 April 2026 | Delapan rupang dewa-dewi dari berbagai daerah berkumpul di Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi pada Jumat, 17 April, sebagai bagian peringatan hari ulang tahun ke-242 klenteng tersebut. Acara ini menandai pertama kalinya patung-patung suci tersebut disatukan di Kabupaten Banyuwangi.
Patung-patung yang berasal dari klenteng di Jember, Lombok, Madiun, Pamekasan, Bangkalan, Surabaya, serta beberapa wilayah lain dikirim oleh pengurus masing‑masing ke Banyuwangi dan ditempatkan di altar Yang Mulia Kongco Tan Hu Cin Jin sebagai tuan rumah. Seluruh rupang diletakkan berurutan pada satu altar sehingga menciptakan suasana khidmat yang jarang terlihat di daerah ini.
Alexander, pengurus Klenteng Hoo Tong Bio, menyatakan, “Rupang‑rupang itu berasal dari klenteng‑klenteng di berbagai daerah, seperti Jember, Lombok, Madiun, Pamekasan, Bangkalan, dan Surabaya,” menegaskan bahwa setiap patung dibawa dengan rasa hormat dan tujuan mempererat persaudaraan.
Alexander menambahkan bahwa konsep acara tahun ini dinamakan “euni kimsin,” yang berarti setiap klenteng membawa rupang masing‑masing untuk disembah bersama. Sebelumnya, perayaan hari jadi biasanya hanya melibatkan ibadah rutin tanpa membawa patung‑patung dewa‑dewi.
Tradisi mengumpulkan rupang dewa‑dewi serupa memang kerap digelar di klenteng‑klenteng di Jawa Tengah, namun kehadirannya di Banyuwangi merupakan langkah inovatif yang diharapkan dapat menjadi contoh bagi wilayah lain. Pengorganisasian ini menunjukkan adaptasi budaya lokal terhadap praktik keagamaan yang lebih luas.
Alexander menjelaskan bahwa tujuan utama acara ini adalah mempererat hubungan antar‑pengurus dan umat dari berbagai klenteng, sehingga mereka tidak hanya bertemu sesaat tetapi dapat beribadah bersama dalam waktu yang lebih lama. Ia menambahkan, “Jika biasanya mereka hanya datang sehari, kali ini mereka bisa berkumpul lebih lama, sembahyang bersama, dan saling mengenal lebih dekat.”
Pihak penyelenggara berharap kegiatan ini akan memunculkan hubungan harmonis antar‑klenteng, sekaligus memungkinkan masing‑masing mengenal pujaan utama yang dipuja oleh rekan‑rekan mereka, seperti Tan Hu Cin Jin, Dewi Kuan Im, dan dewa‑dewi lainnya. Harapan ini mencerminkan semangat persatuan dalam keragaman tradisi keagamaan.
Sejauh ini, semua rupang telah disembah secara bersamaan pada Jumat, 17 April, dan para pengurus melaporkan suasana penuh kebersamaan serta rasa hormat yang mendalam. Kegiatan diperkirakan akan berlanjut selama beberapa hari ke depan, memberi kesempatan bagi lebih banyak umat untuk berpartisipasi dalam doa bersama.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan