Media Kampung – Pernyataan sederhana “jangan mengandalkan satu pintu” mengandung pesan penting dalam konteks pendidikan inklusif yang disampaikan oleh Dr. Praptono, M.Ed. dalam webinar APTADI bertema “Pendidikan Tanpa Diskriminasi: Mewujudkan Kesamaan Akses bagi Setiap Anak” pada 9 Mei 2026. Kalimat tersebut mengajak kita untuk tidak terpaku pada satu metode atau kebijakan dalam mewujudkan pendidikan yang adil dan inklusif bagi semua anak.

Diskriminasi dalam pendidikan tidak hanya terjadi pada tataran aturan, tetapi juga melekat dalam budaya, kebiasaan, dan cara pandang sehari-hari. Banyak sekolah yang sudah menyandang label inklusif, namun masih kesulitan menerima keberagaman secara utuh. Beberapa sekolah hanya memenuhi persyaratan administratif tanpa benar-benar memanusiakan anak berkebutuhan khusus. Hal ini membuat banyak murid yang secara fisik hadir di kelas, namun secara sosial dan emosional merasa terpinggirkan.

Dr. Praptono menegaskan bahwa pendidikan inklusif bukan hanya soal menerima murid dengan kebutuhan khusus, melainkan mengakui bahwa setiap anak memiliki cara belajar dan kebutuhan yang berbeda. Sistem pendidikan yang hanya mengandalkan satu standar, satu pendekatan, atau satu ukuran keberhasilan justru menyisakan banyak anak yang tidak terakomodasi dengan baik. Pendidikan inklusif harus merangkul berbagai pintu pertumbuhan, mulai dari yang belajar melalui suara, sentuhan, gerak, hingga yang memerlukan waktu lebih lama untuk memahami materi.

Selain itu, perjuangan pendidikan inklusif tidak dapat dibebankan hanya pada sekolah atau guru. Peran keluarga sangat penting sebagai ruang pertama penerimaan anak tanpa stigma. Masyarakat juga harus berhenti memandang disabilitas dengan kasihan atau olok-olok. Pemerintah perlu memastikan implementasi kebijakan yang nyata, perguruan tinggi harus menghasilkan guru dengan perspektif kemanusiaan yang kuat, dan dunia kerja harus membuka kesempatan setara bagi semua individu.

Kalimat “jangan mengandalkan satu pintu” mengingatkan bahwa perubahan pendidikan inklusif tidak hanya bergantung pada satu jalur, misalnya regulasi semata. Jika kebijakan berjalan lambat, gerakan sosial dan kesadaran masyarakat harus digerakkan. Jika sekolah belum siap, keluarga dapat menjadi ruang penerimaan utama. Jika kurikulum belum ramah, guru harus mampu menghadirkan pendekatan belajar yang fleksibel dan manusiawi.

Perjuangan melawan diskriminasi dalam pendidikan membutuhkan kesabaran dan kemauan untuk terus membuka jalan baru ketika satu pintu tertutup. Upaya ini bukan hanya soal akses belajar, tetapi juga membangun peradaban yang menghargai keberagaman dan martabat setiap anak. Pintu terakhir yang sering terlupakan adalah pintu hati nurani manusia, yang menjadi kunci utama dalam mewujudkan pendidikan inklusif sejati.

Dengan pandangan tersebut, perjuangan pendidikan inklusif menjadi tugas bersama yang melibatkan banyak pihak demi memastikan setiap anak memiliki kesempatan belajar yang sama dan dihargai tanpa terkecuali.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.