Media Kampung – Pendidikan Muhammadiyah di Surabaya menegaskan komitmen inklusif agama, sosial, dan fisik, memberi ruang bagi siswa lintas kepercayaan tanpa paksaan secara berkelanjutan.

Berita ini dirilis pada 5 Mei 2026 melalui portal resmi Muhammadiyah.or.id, menyoroti praktik tasamuh yang sudah lama menjadi prinsip dasar lembaga pendidikan jaringan tersebut.

Prinsip tasamuh bukan sekadar slogan, melainkan tindakan nyata di mana ribuan pelajar non‑Islam dapat belajar di sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah tanpa dipaksa mengubah keyakinan.

Seorang siswa non‑Islam mengungkapkan, “Mereka yang beragama non‑Islam, ketika menjadi peserta didik di institusi pendidikan Muhammadiyah tidak dipaksa memeluk Islam atau dipaksa menjadi Muhammadiyah – mereka lulus masih memeluk agamanya,” menegaskan rasa aman beragama.

Dari sisi sosial, program kegiatan ekstrakurikuler dirancang agar peserta didik dari beragam latar belakang dapat berinteraksi, mulai dari klub budaya, debat, hingga kerja bakti komunitas.

Aspek fisik juga mendapat perhatian khusus; fasilitas olahraga dan kesehatan disesuaikan untuk memastikan akses yang setara bagi semua peserta, termasuk program kebugaran yang tidak bersyarat agama.

Sejarah singkat Muhammadiyah, didirikan pada 1912, selalu menekankan pendidikan yang progresif, terbuka, dan menolak diskriminasi berbasis kepercayaan.

Kebijakan inklusif ini selaras dengan kebijakan nasional yang mendorong keberagaman dan toleransi dalam sistem pendidikan, memperkuat posisi Muhammadiyah sebagai pelopor perubahan positif.

Orang tua siswa mengapresiasi pendekatan ini, menyatakan bahwa anak mereka tumbuh dalam lingkungan yang menghargai perbedaan sekaligus menumbuhkan rasa empati.

Ketua Pusat Pendidikan Muhammadiyah, Dr. H. Abdul Karim, menegaskan, “Kami berkomitmen menjaga kebebasan beragama sambil menyediakan pendidikan berkualitas yang mencakup dimensi sosial dan fisik bagi seluruh generasi bangsa.”

Perkembangan terbaru menunjukkan peningkatan pendaftaran siswa non‑Islam sebesar 12 % pada semester pertama 2026, menandakan respons positif masyarakat terhadap model inklusif ini.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.