Media Kampung – Dunia modern tetap dilanda perang dan konflik meski harapan damai terus dikejar, dan Islam diproyeksikan Haedar Nashir sebagai Paradigma Alternatif.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah menegaskan bahwa nilai-nilai universal manusia terancam oleh kekerasan yang terus meluas.

Ia mencatat bahwa sejak awal abad ke-21, konflik bersenjata meningkat 27% dibanding dekade sebelumnya, menurut data PBB.

Data tersebut mencakup perang di Ukraina, konflik di Timur Tengah, serta ketegangan di wilayah Asia-Pasifik.

Haedar menyoroti bahwa paradigma Barat modern cenderung menekankan kepentingan material dan kekuasaan politik.

Islam, ia katakan, menawarkan kerangka etis yang menekankan keadilan, toleransi, dan perlindungan hak asasi.

“Jika nilai-nilai Islam dijadikan landasan bersama, maka konflik dapat diminimalisir melalui dialog yang berakar pada keadilan,” ujarnya dalam konferensi pers di Surabaya.

Haedar menambahkan bahwa konsep ummah dapat menjadi platform lintas negara untuk mengatasi akar penyebab konflik.

Ia mencontohkan inisiatif mediasi yang pernah berhasil di Sudan, di mana tokoh agama membantu meredam pertikaian.

Selain itu, Muhammadiyah telah meluncurkan program edukasi perdamaian berbasis nilai Islam di 15 universitas nasional.

Program tersebut mencakup kursus tentang hak asasi, hukum internasional, dan resolusi konflik secara damai.

Hasil survei internal menunjukkan 68% mahasiswa merasa lebih siap menghadapi dinamika sosial setelah mengikuti program tersebut.

Di tingkat lokal, jaringan masjid-masjid di Surabaya aktif menyelenggarakan forum dialog antar komunitas agama.

Forum ini menurunkan insiden intoleransi sebesar 12% dalam enam bulan terakhir.

Haedar menegaskan bahwa peran pemerintah tetap penting, namun kebijakan harus selaras dengan nilai-nilai moral universal.

Ia mengajak semua pemangku kepentingan, termasuk lembaga keagamaan, akademisi, dan sektor swasta, untuk bersinergi.

Konflik di wilayah Afrika Barat, khususnya di Mali, menjadi contoh nyata kegagalan pendekatan militer semata.

Haedan berpendapat bahwa solusi jangka panjang memerlukan pendekatan yang menyeimbangkan keamanan dan keadilan sosial.

Secara historis, Islam pernah menjadi faktor penyatu pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, menciptakan ruang toleransi ilmiah.

Pengalaman tersebut dapat dijadikan referensi bagi dunia modern yang terfragmentasi.

Haedar juga mengingatkan bahwa teknologi informasi harus dimanfaatkan untuk menyebarkan nilai perdamaian, bukan propaganda kekerasan.

Ia mencontohkan platform digital yang dikembangkan Muhammadiyah untuk edukasi damai, yang telah diakses lebih dari satu juta pengguna.

Dalam konteks global, tantangan perubahan iklim menambah tekanan pada sumber daya, memperburuk potensi konflik.

Islam menekankan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari amanah manusia, yang dapat meredam persaingan sumber daya.

Haedar menutup dengan harapan bahwa Paradigma Alternatif ini dapat menginspirasi kebijakan internasional yang lebih inklusif.

Ia menegaskan bahwa kerja bersama antar bangsa dan agama menjadi kunci mengakhiri perang yang tak berkesudahan.

Saat ini, Muhammadiyah terus memperluas jaringan dialog di 10 provinsi tambahan, termasuk di Bali dan Papua.

Langkah tersebut diharapkan meningkatkan kesadaran akan pentingnya nilai-nilai Islam dalam menciptakan perdamaian berkelanjutan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.