Media Kampung – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menyoroti urgensi intervensi literasi sejak usia dini dalam upaya mencegah kemiskinan belajar pada anak-anak Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Angkatan Muda Muhammadiyah di Tangerang pada 22 April 2026.

Acara yang diadakan oleh Universitas Muhammadiyah A.R. Fachruddin (UNIMAR) menampilkan Wamen Fajar sebagai pembicara kunci, menekankan peran strategis pemuda Muhammadiyah dalam transformasi pendidikan. Ia menambahkan bahwa literasi merupakan fondasi utama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Wamen Fajar mengingatkan bahwa intervensi literasi harus dimulai sejak balita, karena otak pada usia tersebut sangat responsif terhadap rangsangan bahasa. Ia mengusulkan program membaca bersama orang tua, penyediaan buku bacaan berkualitas, serta pelatihan guru untuk metode pengajaran yang interaktif.

Selama sesi tanya jawab, peserta menanyakan langkah konkret yang dapat diambil oleh organisasi pemuda. Fajar menjawab bahwa mereka dapat menjadi agen perubahan dengan mengadakan kampanye membaca, mendirikan perpustakaan mini di lingkungan, dan memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan konten edukatif.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa 30 persen anak di wilayah Jawa Barat belum menguasai keterampilan membaca dasar pada akhir kelas satu. Kondisi serupa teridentifikasi di provinsi lain, menandakan perlunya kebijakan terintegrasi antara pemerintah, lembaga non‑profit, dan sektor swasta.

Wamen Fajar juga menekankan pentingnya kolaborasi antara kementerian pendidikan dengan kementerian komunikasi dan informatika untuk mengatur konten digital yang ramah anak. Ia menegaskan bahwa regulasi harus mendukung penyediaan materi pembelajaran yang menarik dan mendidik.

Dalam rangka memperkuat intervensi literasi, Kementerian Pendidikan berencana meluncurkan program “Baca Bersama Keluarga” yang akan mencakup pelatihan orang tua, distribusi buku gratis, dan monitoring perkembangan kemampuan membaca anak secara berkala. Program ini ditargetkan pada 1 juta rumah tangga selama tiga tahun ke depan.

Fajar menuturkan bahwa hasil evaluasi awal program pilot di tiga kabupaten menunjukkan peningkatan signifikan dalam skor literasi anak setelah enam bulan pelaksanaan. Peningkatan rata-rata mencapai 15 poin pada skala standar nasional.

Selain itu, Kementerian berkomitmen untuk memperluas jaringan perpustakaan digital yang dapat diakses melalui perangkat seluler dengan biaya minimal. Inisiatif ini diharapkan dapat menjangkau daerah terpencil yang selama ini sulit mendapatkan layanan perpustakaan konvensional.

Para pemuda Muhammadiyah yang hadir menanggapi dengan antusias, menyatakan kesiapan mereka untuk mengimplementasikan program tersebut di komunitas masing‑masing. Mereka berjanji akan mengadakan kegiatan membaca bersama di sekolah, masjid, dan balai desa.

Seminar diakhiri dengan penekanan bahwa upaya intervensi literasi tidak boleh ditunda, mengingat dampaknya yang luas terhadap kesejahteraan sosial dan ekonomi bangsa. Wamen Fajar menutup pertemuan dengan harapan semua pihak dapat bersinergi untuk menciptakan generasi yang cerdas, kritis, dan bebas dari kemiskinan belajar.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.