Media Kampung – LP Ma’arif NU Banjar Kalsel menggelar program PKBM berbasis pesantren sebagai respons darurat mengurangi angka anak tidak sekolah di wilayah tersebut.
Inisiatif ini diluncurkan pada akhir Agustus 2024 di kantor Lembaga Pengembangan Ma’arif, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Program PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) dirancang memberikan akses pendidikan formal setara ijazah kepada santri dan warga sekitar.
Dengan model pesantren, lembaga mengintegrasikan kurikulum nasional dengan nilai-nilai keagamaan dan kemandirian ekonomi.
Target utama PKBM adalah menurunkan tingkat out-of-school children (OSC) yang pada 2023 mencapai 9,2% di Kabupaten Banjar.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa 7.800 anak berusia 6-15 tahun belum bersekolah pada tahun lalu.
LP Ma’arif NU menargetkan penurunan angka tersebut menjadi di bawah 4% dalam dua tahun ke depan.
Untuk mencapai tujuan, PKBM menyediakan kelas reguler, kelas kejuruan, serta pelatihan keterampilan berbasis pertanian dan kerajinan.
Setiap kelas diampu oleh pengajar bersertifikat yang juga berperan sebagai pembina spiritual.
Program ini mendapat dukungan dana sebesar Rp 3,5 miliar dari dana CSR beberapa perusahaan lokal.
Selain itu, LP Ma’arif NU mengalokasikan sumber daya manusia dari jaringan pesantren se-Kalimantan Selatan.
“Kami ingin memberikan kesempatan belajar yang layak tanpa mengorbankan identitas keagamaan,” ujar Ketua LP Ma’arif NU Banjar, KH. Abdul Rauf.
Ia menambahkan bahwa model pesantren memungkinkan pembelajaran yang fleksibel, mengakomodasi anak-anak yang bekerja di pertanian.
PKBM membuka pendaftaran bagi 1.200 siswa pada tahap awal, dengan prioritas bagi anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah.
Setiap peserta mendapatkan paket belajar meliputi buku modul, seragam, dan perlengkapan belajar.
Selain akademik, program ini menekankan pembentukan karakter melalui kegiatan keagamaan, sosial, dan olahraga.
Para santri yang terlibat juga berperan sebagai mentor bagi anak-anak non-santri, memperkuat ikatan komunitas.
Lembaga berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar untuk sinkronisasi kurikulum dan akreditasi.
Hasil evaluasi bulanan menunjukkan peningkatan kehadiran siswa sebesar 15% dibandingkan bulan pertama.
Penggunaan teknologi digital, seperti aplikasi pembelajaran, juga diintegrasikan untuk memantau progres belajar.
Secara geografis, PKBM berlokasi strategis dekat pusat pasar Banjarbaru, memudahkan akses transportasi.
Keberhasilan program diharapkan menjadi model bagi daerah lain yang menghadapi tantangan serupa.
Pengamat pendidikan menilai bahwa pendekatan pesantren dapat meningkatkan motivasi belajar di komunitas konservatif.
Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam penyediaan tenaga pengajar yang bersertifikasi.
LP Ma’arif NU berencana mengadakan pelatihan guru secara berkala untuk memastikan kualitas pembelajaran.
Program juga mengintegrasikan program beasiswa bagi siswa berprestasi untuk melanjutkan ke jenjang menengah.
Dengan dukungan masyarakat, program PKBM berbasis pesantren menjadi solusi jangka panjang menurunkan angka anak tidak sekolah.
Hingga saat ini, 850 anak telah terdaftar dan aktif mengikuti pelajaran di PKBM.
Monitoring rutin menunjukkan bahwa 70% peserta telah mencapai standar kelulusan kelas dasar.
Kondisi terbaru menandakan tren penurunan signifikan pada angka OSC di Banjar Kalsel.
LP Ma’arif NU menegaskan komitmen untuk memperluas jaringan PKBM ke daerah lain di Kalimantan Selatan.
Dengan langkah ini, lembaga berharap menciptakan generasi yang terdidik, berkarakter, dan siap bersaing di era modern.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan