Media Kampung – 17 April 2026 | Akademisi di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA) diharapkan tidak memisahkan ilmu yang dikuasai dengan realitas sosial yang tengah dihadapi, demikian pesan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, pada Orasi Ilmiah yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Kamis, 16 April 2026.
Acara tersebut dipandu oleh Guru Besar Ilmu Sosiologi, Prof. Ridho Al Hamdi, yang menekankan pentingnya sinergi antara teori akademik dan praktik lapangan dalam rangka menghasilkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Haedar Nashir menegaskan, “Tidak boleh ada jarak antara ilmu yang kita kuasai dengan realitas yang dihadapi masyarakat,” sebagai panggilan kepada dosen, peneliti, dan mahasiswa untuk lebih aktif dalam mengidentifikasi permasalahan aktual.
Ia menambahkan bahwa peran universitas Muhammadiyah tidak sekadar menghasilkan lulusan dengan kompetensi akademik, melainkan juga menjadi agen perubahan yang mampu merespon tantangan ekonomi, sosial, dan teknologi yang berkembang cepat.
Prof. Ridho Al Hamdi mengutip hasil survei internal yang menunjukkan 45 persen responden mahasiswa merasa kurang terhubung dengan masalah masyarakat sekitar, sehingga beliau mengusulkan penambahan program pengabdian masyarakat berbasis riset terapan.
Program tersebut meliputi kerja sama dengan pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, serta industri lokal untuk mengimplementasikan hasil penelitian dalam bentuk kebijakan atau produk yang dapat meningkatkan kesejahteraan.
Contoh konkret yang diangkat adalah proyek penelitian tentang pengelolaan limbah organik di daerah Yogyakarta, yang melibatkan mahasiswa agronomi, dosen, serta petani setempat untuk mengembangkan kompos berbasis teknologi low‑cost.
Hasil pilot proyek tersebut menunjukkan peningkatan produktivitas pertanian sebesar 18 persen dan pengurangan volume limbah rumah tangga hingga 30 persen dalam enam bulan pertama.
Haedar Nashir menilai keberhasilan tersebut sebagai bukti bahwa akademisi dapat menjadi jembatan antara pengetahuan dan kebutuhan riil, asalkan ada dukungan struktural dan kebijakan yang memfasilitasi kolaborasi lintas sektoral.
Ia juga mengingatkan pentingnya pembaruan kurikulum yang mengintegrasikan mata kuliah praktik lapangan, magang, dan proyek berbasis komunitas untuk menyiapkan lulusan yang lebih adaptif.
Dalam konteks nasional, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menargetkan 80 persen institusi pendidikan tinggi mengadopsi model pembelajaran berbasis masalah (Problem‑Based Learning) pada tahun 2027, yang sejalan dengan visi Muhammadiyah untuk memperkuat relevansi akademik.
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta telah menyiapkan portal digital yang memfasilitasi pertukaran data antara dosen, mahasiswa, dan mitra eksternal, sehingga proses identifikasi masalah dan pelaksanaan solusi menjadi lebih cepat dan transparan.
Portal tersebut mencatat lebih dari 120 proyek kolaboratif sejak peluncurannya pada awal 2025, dengan total dana pendanaan bersama mencapai lebih dari Rp 15 miliar.
Secara keseluruhan, langkah-langkah tersebut menunjukkan komitmen kuat PTMA untuk menjembatani kesenjangan antara teori dan realitas, sekaligus menyiapkan generasi akademisi yang responsif terhadap dinamika sosial‑ekonomi Indonesia.
Ke depan, universitas di jaringan Muhammadiyah berencana memperluas jaringan kerjasama dengan lembaga penelitian internasional, guna memperkaya perspektif global sekaligus tetap berfokus pada isu-isu lokal yang membutuhkan solusi inovatif.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan