Media Kampung – Jakarta-Jeju resmi menjalin kerja sama sister city pada Sabtu 25 April 2026, menandai langkah strategis Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memperkuat kolaborasi global dalam bidang pariwisata, energi terbarukan, serta ekonomi digital. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa kerja sama sister city ini akan meningkatkan posisi Jakarta di kancah internasional dan memperluas jaringan kerja sama bilateral.
Upacara penandatanganan nota kesepahaman berlangsung di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Seoul, dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Gubernur Provinsi Otonomi Khusus Jeju Oh Young‑hun, serta Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Cecep Herawan. Kedua pemimpin menukar dokumen MoU setelah serangkaian pertemuan bilateral yang membahas potensi sinergi antara kedua wilayah.
Konsep sister city mengacu pada kemitraan resmi antara dua wilayah yang memiliki kesamaan demografi, geografi, atau kepentingan pembangunan, dengan tujuan pertukaran pengetahuan, teknologi, serta budaya. Dalam konteks Jakarta‑Jeju, kerja sama sister city dirancang untuk memfasilitasi transfer best practice dalam pengelolaan kota pintar, pengembangan pariwisata berkelanjutan, dan inovasi energi bersih.
MoU mencakup lima sektor strategis: pariwisata, energi terbarukan, ekonomi digital, pertanian, dan perikanan. Pada sektor pariwisata, kedua pihak akan mengembangkan paket wisata terpadu, mempromosikan destinasi ikonik, serta melatih tenaga kerja di bidang hospitality. Di bidang energi terbarukan, Jeju akan berbagi pengalaman dalam pemanfaatan energi angin dan surya, sementara Jakarta berkomitmen meningkatkan kapasitas pembangkit listrik hijau.
Pramono Anung menegaskan, “Jeju merupakan mitra strategis, terutama dalam pengembangan pariwisata dan energi berkelanjutan; kami berharap kerja sama ini memberikan dampak konkret bagi masyarakat di kedua wilayah.” Kutipan tersebut menegaskan komitmen kedua gubernur untuk mewujudkan hasil nyata melalui program pertukaran teknis dan kunjungan delegasi.
Visi jangka panjang Jakarta adalah masuk dalam jajaran 50 kota global terkemuka pada tahun 2030, dan kerja sama sister city dengan Jeju dipandang sebagai katalisator utama pencapaian tujuan tersebut. Dengan mengadopsi inovasi teknologi dari Jeju, Jakarta berencana meningkatkan kualitas layanan publik, memperkuat daya saing ekonomi, serta menarik investasi asing yang lebih berkelanjutan.
Manfaat yang diharapkan mencakup peningkatan pendapatan daerah melalui pertumbuhan wisatawan, penciptaan lapangan kerja di sektor energi bersih, serta pengembangan ekosistem startup digital yang terintegrasi. Selain itu, kolaborasi pertanian dan perikanan diharapkan memperkenalkan teknik budidaya ramah lingkungan yang dapat meningkatkan produktivitas petani dan nelayan di kedua wilayah.
Pihak Jeju menekankan kesiapan untuk menyalurkan investasi sektor energi terbarukan, termasuk proyek pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai, serta program pelatihan digital bagi tenaga kerja muda Jakarta. Kerja sama ini juga membuka peluang bagi perusahaan Korea Selatan untuk berpartisipasi dalam proyek infrastruktur perkotaan di Indonesia.
Implementasi kerja sama sister city akan dipantau oleh tim gabungan yang terdiri atas pejabat DKI Jakarta, perwakilan Pemerintah Provinsi Jeju, serta ahli independen di bidang perencanaan kota. Tim tersebut akan menyusun peta jalan tahunan, mengidentifikasi indikator kinerja, serta menyelenggarakan forum evaluasi setiap enam bulan untuk memastikan progres yang konsisten.
Hingga kini, proses persiapan teknis telah memasuki fase awal, dengan beberapa delegasi teknis Jakarta sudah melakukan kunjungan lapangan ke Jeju untuk mempelajari praktik terbaik. Kedua pihak menjadwalkan pertemuan lanjutan pada akhir kuartal kedua 2026, menandakan optimisme bahwa kerja sama sister city akan segera menghasilkan program konkret yang memberi manfaat luas bagi warga Jakarta dan Jeju.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan