Media Kampung – Mahasiswa program KKN Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) Universitas Muhammadiyah Jember memperkenalkan kembali Situs Duplang, cagar budaya Megalitikum yang terletak di lereng Gunung Argopuro, Desa Kamal, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember.

Situs ini terletak pada ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut dan telah menjadi saksi keberadaan peradaban manusia purba sejak abad ke‑4 hingga ke‑10 Masehi.

Awalnya dikenal dengan sebutan “Sembah Lasdono”, yang berarti hutan tempat manusia purba bersembahyang, nama resmi “Situs Duplang” diresmikan pada tahun 1985 bersamaan dengan penetapannya sebagai kawasan lindung.

Berbagai struktur batu seperti menhir, dolmen, dan watu kenong tersebar di area tersebut, masing‑masing berfungsi sebagai sarana pemujaan, pemakaman, atau tempat meletakkan sesajen dalam ritual kepercayaan zaman itu.

Penelitian arkeologis menunjukkan bahwa situs ini merupakan salah satu pusat kegiatan sosial‑ekonomi pada masa Megalitikum di wilayah Jawa Timur, menghubungkan daerah sekitarnya dengan jaringan perdagangan prasejarah.

Tim KKN RPL Unmuh Jember yang dipimpin oleh 23 mahasiswa melakukan survei lapangan pada tanggal 24 April 2026, kemudian menyusun modul edukasi interaktif untuk pengunjung sekolah dan wisatawan.

“Kami berharap modul ini dapat menghidupkan kembali cerita nenek moyang melalui pengalaman langsung di lapangan,” kata Riska Pratama, koordinator tim KKN, saat memperkenalkan hasil kerja mereka.

Modul tersebut memuat peta digital, video dokumentasi, serta kuis berbasis aplikasi yang dirancang untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dan kesadaran akan pentingnya pelestarian warisan budaya.

Pemerintah Kabupaten Jember mendukung inisiatif mahasiswa dengan menyiapkan fasilitas pendukung, seperti papan informasi, jalur pejalan kaki, dan pelatihan pemandu lokal.

Pengembangan Situs Duplang menjadi destinasi edu‑wisata diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar melalui peningkatan kunjungan wisatawan domestik dan internasional.

Tim konservasi daerah terus memantau kondisi batuan dan vegetasi, serta melakukan penanaman pohon bakau di area sekitarnya untuk mencegah erosi tanah.

Pada bulan Mei 2026, pihak kampus dan pemerintah daerah berencana menggelar Festival Budaya Prasejarah yang menampilkan pertunjukan seni tradisional dan workshop arkeologi untuk memperluas jangkauan edukasi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.