Media KampungGubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk mengembangkan wisata bawah laut sebagai pendorong ekonomi regional.

Program diving yang dipromosikan sejak awal 2024 telah menarik lebih dari 5.000 wisatawan domestik dan internasional hingga akhir 2025.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan peningkatan kunjungan sebesar 27% dibandingkan tahun sebelumnya, sekaligus menurunkan tingkat pengangguran di sektor jasa.

Sherly menambahkan bahwa fasilitas pelabuhan kecil di Ternate dan Morotai kini dilengkapi dengan perlengkapan selam standar internasional.

Upaya tersebut didukung oleh alokasi dana APBN sebesar Rp120 miliar untuk pembangunan infrastruktur laut selama dua tahun ke depan.

Namun, pemerintah provinsi menghadapi keluhan warga terkait tingginya harga tiket pesawat menuju Maluku Utara.

Pihak maskapai melaporkan kenaikan tarif rata-rata 15% sejak kuartal pertama 2026, memicu protes dari pelaku pariwisata lokal.

Sherly Tjoanda menanggapi dengan menjanjikan negosiasi ulang tarif bersama otoritas penerbangan sipil.

Ia menegaskan bahwa aksesibilitas transportasi udara menjadi kunci utama keberlangsungan program wisata bawah laut.

Dalam pertemuan dengan perwakilan maskapai pada 12 April 2026, pemerintah provinsi mengusulkan subsidi tiket bagi pelancong yang berkunjung ke destinasi selam.

Usulan tersebut diharapkan dapat menurunkan harga tiket hingga 10% dalam jangka waktu enam bulan.

Selain itu, Sherly mengumumkan program promosi paket wisata yang menggabungkan penerbangan, akomodasi, dan pelatihan selam.

Program ini menargetkan 3.000 wisatawan per tahun dengan potensi pendapatan tambahan mencapai Rp45 miliar.

Pengembangan ekowisata laut juga melibatkan pelatihan bagi penduduk setempat menjadi pemandu selam bersertifikat.

Hingga kini, lebih dari 200 warga telah menyelesaikan pelatihan tersebut melalui kerja sama dengan lembaga pelatihan internasional.

Keberhasilan program selam juga menarik perhatian pemerintah pusat, yang menilai Maluku Utara sebagai contoh model pariwisata berkelanjutan.

Sherly Tjoanda juga berperan sebagai juri dalam ajang Puteri Indonesia 2026, menandakan peranannya dalam bidang budaya dan sosial.

Ia menilai bahwa pemilihan puteri yang berfokus pada pemberdayaan perempuan dapat selaras dengan visi pembangunan inklusif provinsi.

Pada final Puteri Indonesia 2026, Sherly menyoroti pentingnya melestarikan lingkungan laut sebagai bagian dari agenda nasional.

Komentar beliau di podium menekankan bahwa para finalis harus menjadi duta lingkungan, terutama di wilayah kepulauan.

Acara final yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center melibatkan 45 finalis, termasuk perwakilan Maluku Utara yang dipilih oleh Sherly.

Keputusan tersebut memperkuat citra Maluku Utara sebagai provinsi yang aktif dalam forum nasional.

Selain tugas politik, Sherly Tjoanda tetap mengawasi pelaksanaan proyek infrastruktur jalan nasional di Maluku.

Kerja sama dengan Kepala BPJN Maluku, Dr. Ir. Yana Astuti, menghasilkan percepatan pembangunan jalan strategis sepanjang 120 kilometer.

Pembangunan ini diharapkan meningkatkan konektivitas antar pulau, sekaligus mendukung distribusi barang wisata.

Dalam rapat koordinasi pada 20 Mei 2026, Sherly menekankan pentingnya sinergi antara transportasi darat dan laut untuk mempermudah akses ke spot diving.

Ia menambahkan bahwa peningkatan jaringan transportasi akan menurunkan biaya logistik bagi operator wisata selam.

Upaya tersebut sejalan dengan program nasional “Indonesia Sehat dan Maju” yang menitikberatkan pada pembangunan wilayah terpencil.

Keberhasilan program diving di Maluku Utara menjadi contoh konkret bagaimana kebijakan terintegrasi dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi lokal.

Sherly Tjoanda menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi dalam menjaga kebersihan laut dan melestarikan terumbu karang.

Ia menegaskan bahwa keberlanjutan wisata selam bergantung pada kesadaran kolektif akan pentingnya ekosistem laut.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.