Media Kampung – Kenaikan harga oli kendaraan yang terjadi secara bertahap dalam beberapa bulan terakhir mulai mengubah kebiasaan para pemilik mobil dan motor. Di tengah tekanan biaya perawatan yang semakin besar, banyak konsumen yang memilih untuk menunda penggantian oli atau beralih ke produk yang lebih murah. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada anggaran rumah tangga, tetapi juga berpotensi memicu masalah teknis pada kendaraan.
Di Kota Padang, kenaikan harga oli mobil tercatat terjadi tiga kali dalam tiga bulan terakhir, sejak April 2026. Menurut Syahrul Mubarak, Kepala Toko Panti Motor, hampir semua merek oli mengalami kenaikan, termasuk Pertamina, Shell, dan Top One. Kenaikan harga berkisar antara Rp5.000 hingga Rp15.000 per liter, sehingga untuk penggantian oli sebanyak empat liter, konsumen harus mengeluarkan tambahan biaya hingga Rp60.000. Akibatnya, jumlah konsumen yang datang ke bengkel untuk mengganti oli menurun drastis.
Kebiasaan baru mulai terlihat di kalangan pemilik mobil. Banyak yang hanya membeli satu liter oli untuk sekadar menambah volume, bukan mengganti seluruhnya. Praktik ini tentu berisiko karena tidak mengganti oli secara menyeluruh dapat menurunkan kinerja pelumasan mesin. Sementara itu, di sisi pengguna sepeda motor, kekhawatiran akan oli cepat habis semakin meningkat di tengah kenaikan harga.
Danang Priyo Kumoro, Technical Training Instructor Astra Motor Yogyakarta, menjelaskan bahwa oli mesin berfungsi sebagai “darah” bagi sepeda motor. Oli melumasi, membersihkan, dan menjaga suhu mesin tetap optimal. Penggantian oli sebaiknya dilakukan setiap 4.000 hingga 6.000 kilometer, tergantung tipe kendaraan dan kondisi pemakaian. Namun, jika volume oli menyusut drastis sebelum batas kilometer tersebut, hal itu bisa menjadi tanda adanya masalah serius.
Oli yang cepat habis bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Yang paling umum adalah keausan ring piston pada motor tua, yang menyebabkan oli ikut terbakar di ruang bakar. Kebocoran halus pada sil, gasket, atau paking juga sering menjadi penyebab, di mana oli merembes keluar tanpa disadari. Selain itu, penggunaan oli murah dengan viskositas tidak sesuai standar pabrikan justru mempercepat penguapan pelumas saat mesin bekerja pada suhu tinggi.
Jika masalah ini dibiarkan, risiko terbesar adalah harus turun mesin atau engine overhaul, yang biayanya bisa mencapai jutaan rupiah. Oleh karena itu, para ahli menyarankan untuk tetap menggunakan oli dengan spesifikasi yang tepat sesuai rekomendasi pabrikan, meskipun harganya lebih mahal. Perawatan rutin dan perbaikan kebocoran sejak dini dapat mencegah kerusakan fatal yang justru lebih menguras kantong.
Kenaikan harga oli yang terus berlanjut memaksa pemilik kendaraan untuk lebih cermat dalam merawat kendaraannya. Meskipun godaan untuk menghemat biaya perawatan sangat besar, mengabaikan kualitas oli bisa berakibat pada pengeluaran yang jauh lebih besar di kemudian hari.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan