Media Kampung – 15 April 2026 | Jordy Tutuarima, bek keturunan Indonesia-Belanda berusia 32 tahun, mengalami perubahan drastis dalam kariernya setelah diputuskan tidak lagi menjadi bagian dari skuad Persis Solo dan kini bermain di klub amatir Belanda.

Ia menandatangani kontrak dengan Persis Solo pada Januari 2025 setelah sebelumnya bermain di beberapa klub Eropa, dengan harapan dapat memperkuat lini pertahanan tim Laskar Sambernyawa.

Debutnya tercatat pada 13 Januari 2025 ketika Persis Solo menghadapi PSM Makassar di Stadion Manahan, Solo, dimana ia tampil sebagai bek kiri pertama.

Pada awal musim, pelatih Peter de Roo menjadikan Tutuarima pilihan utama di posisi bek kiri, mengandalkan kecepatan dan kemampuan menyalurkan umpan silang.

Namun, pada bursa transfer paruh musim, Persis Solo melakukan perombakan drastis dengan memberhentikan sembilan pemain asing, termasuk Tutuarima, sebagai bagian dari restrukturisasi skuad.

“Segalanya berjalan sangat aneh di sana. Seorang pelatih baru datang pada Januari, dan tiba-tiba semua pemain asing harus pergi,” ujarnya dalam wawancara yang dikutip dari Gelderlander.nl.

Ia menyatakan keinginan kuat untuk tetap bertahan di Indonesia, namun batas waktu transfer yang berakhir pada 6 Februari membuatnya tidak dapat mendaftar ke klub lain.

Rekan setimnya, Gervane Kastaneer, berhasil melanjutkan karier di Liga Malaysia bersama Terengganu FC, menunjukkan perbedaan nasib bagi pemain asing dengan status internasional.

Setelah kegagalan menemukan klub baru, Tutuarima memutuskan pulang ke Belanda dan bergabung dengan GVVV Veenendaal, tim yang berkompetisi di kasta ketiga liga Belanda.

Keputusan tersebut dipengaruhi oleh usianya yang memasuki fase akhir karier, serta keinginan untuk lebih fokus pada keluarga yang sempat tertinggal selama masa pindah-pindah klub.

Sebelum menjejakkan kaki di Indonesia, ia pernah bermain untuk Telstar, De Graafschap, PEC, serta merantau ke klub-klub di Yunani dan Armenia, menambah pengalaman internasionalnya.

Saat ini, ia berlatih secara rutin bersama GVVV Veenendaal, berkontribusi dalam kompetisi amatir sambil menyeimbangkan waktu bersama istri dan anak.

Kebijakan Liga 1 yang membatasi jumlah pemain asing menjadi faktor utama yang memicu pemecatan massal, sehingga klub harus menyesuaikan skuad demi mematuhi regulasi.

Situasi ini menimbulkan tantangan bagi klub Indonesia dalam mempertahankan kualitas kompetisi sekaligus memberi peluang bagi pemain lokal untuk naik kelas.

Dengan demikian, Jordj Tutuarima kini menapaki fase baru dalam dunia sepak bola, mengalihkan fokus dari kompetisi profesional ke lingkungan yang lebih intim dan keluarga.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.