Media Kampung – Sugiarto atlet tenis meja mengatasi bullying, kelumpuhan kaki, dan kembali ke kompetisi, menargetkan perunggu di Peparprov 2026.
Ia lahir di Desa Sadang, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, dan sejak usia lima tahun kaki kanannya lumpuh akibat komplikasi setelah sakit panas.
Ketika masih duduk di bangku kelas satu SD, Sugiarto harus memakai kruk, namun kruknya sering disembunyikan teman sehingga ia menjadi korban bullying yang berulang.
Akibat tekanan sosial, ia memutuskan untuk tidak lagi menggunakan kruk dan belajar berjalan dengan menekan lutut kaki kanan, cara yang memudahkan pergerakannya meski tetap terbatas.
Pada tahun 2010, Sugiarto menemukan passionnya pada tenis meja dan memutuskan menekuni olahraga tersebut meski memiliki keterbatasan pada kaki.
Ia pertama kali menembus kompetisi setara tarkam pada 2018, berpasangan dengan putranya dan berhasil mengamankan posisi ketiga melawan lawan yang tidak memiliki disabilitas.
Segala biaya akomodasi dan transportasi untuk mengikuti turnamen selalu dibayar secara pribadi, karena dukungan sponsor masih terbatas.
Setelah 2020, Sugiarto mengambil jeda kompetisi dan beralih menjadi asisten pelatih pada Kejuaraan Peparnas di Bandung (2016) dan Papua (2021), serta melatih tim NPCI Jawa Tengah untuk Peparnas 2024.
Saat ini ia bersiap kembali berkompetisi di Peparprov Jawa Tengah 2026 yang akan diselenggarakan di Semarang pada November, dengan mendaftar di nomor TT7 Putra.
Latihan harian meliputi servis, drilling, dan uji tanding setiap Jumat‑Sabtu, serta latihan fisik tambahan pada Minggu, meskipun stamina menurun setelah vakum panjang.
“Saya masih menunggu pendaftaran dan informasi lanjutan,” ujar Sugiarto, menegaskan targetnya untuk meraih medali perunggu dan mengharumkan nama Kabupaten Kudus.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan