Media Kampung – 19 Maret 2026 | Al-Ittihad FC, salah satu klub paling bersejarah di sepak bola Arab, tengah menapaki fase penting menjelang akhir musim 2025/2026. Di kompetisi King’s Cup Saudi, mereka berhasil melaju ke perempat final setelah mengalahkan Al-Nassr 2-1, sekaligus menyiapkan strategi baru di bawah asuhan pelatih baru Rhulani Mokwena yang baru saja bergabung dari MC Alger.

Penampilan di King’s Cup

Pertandingan perempat final King’s Cup mempertemukan Al-Ittihad dengan Al-Nassr, tim yang dipimpin oleh Cristiano Ronaldo. Meskipun Al-Nassr mendominasi penguasaan bola, Al-Ittihad tampil disiplin dan memanfaatkan peluang lewat Karim Benzema, yang mencetak satu gol penting. Skor akhir 2-1 membawa Al-Ittihad ke semifinal, di mana mereka akan bertemu pemenang antara Al Hilal dan Al Kholood.

Sementara itu, di semifinal lain, Al Hilal berhasil menembus final setelah mengalahkan Al Ahli lewat adu penalti. Al Kholood, yang sebelumnya menyingkirkan Al-Ittihad pada perempat final lewat penalti, akan menjadi lawan potensial bagi Al-Ittihad di babak berikutnya. Keberhasilan Al-Ittihad menembus babak semi menandai kembalinya klub ke panggung kompetisi utama setelah kegagalan musim lalu.

Rhulani Mokwena Ambil Alih Kendali

Pelatih baru asal Afrika Selatan, Rhulani Mokwena, resmi ditunjuk sebagai kepala pelatih Al-Ittihad pada awal Maret 2026. Mokwena, yang sebelumnya mengangkat MC Alger menjadi juara Piala Super Aljazair, menandatangani kontrak jangka panjang dengan harapan mengembalikan kejayaan klub di level domestik dan kontinental.

Dalam wawancara pertamanya, Mokwena menekankan pentingnya menggabungkan tradisi klub dengan pendekatan taktik modern. Ia menyebut pengalaman bermain melawan Al-Ittihad di tahun 2000 saat Mamelodi Sundowns mengalahkan mereka dalam laga Champions League sebagai motivasi untuk mengembalikan klub ke panggung internasional. “Kami ingin kembali menjadi kekuatan utama di Afrika, bersaing di kompetisi klub Asia, dan secara konsisten meraih trofi di dalam negeri,” ujarnya.

Selain aspek taktik, Mokwena juga menyoroti kondisi finansial klub. Ia menegaskan bahwa keputusan bergabung bukan semata-mata soal gaji, melainkan tantangan baru yang menarik. “Saya tidak terlalu dipengaruhi oleh uang. Yang penting adalah visi klub dan dukungan para suporter,” kata Mokwena, menyinggung pengalaman singkatnya di Wydad Casablanca yang berakhir tanpa bayaran.

Konteks Kompetisi dan Tantangan

Al-Ittihad berada di tengah persaingan ketat di Liga Saudi, bersaing dengan raksasa seperti Al Hilal, Al Nassr, dan Al Ahli. Kegagalan pada perempat final King’s Cup melawan Al Kholood menjadi pengingat bahwa klub harus meningkatkan konsistensi defensif dan ketajaman di lini serang. Pelatih baru diharapkan memperbaiki transisi antara lini tengah dan serang, serta memanfaatkan kecepatan pemain muda yang ada dalam skuad.

Di luar lapangan, klub juga berupaya memperkuat basis pendukungnya. Setelah kedatangan Mokwena, suporter memberikan sambutan hangat, menandakan hubungan erat antara tim dan komunitas. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan moral pemain sekaligus memperluas jangkauan pemasaran klub di pasar regional.

Prospek Musim Depan

Jika Al-Ittihad dapat melanjutkan performa positif di King’s Cup dan memperbaiki hasil di liga, mereka berpotensi menantang dominasi Al Hilal yang telah mengamankan tiket final. Keberhasilan dalam kompetisi domestik akan menjadi landasan bagi ambisi Mokwena mengembalikan klub ke kompetisi AFC Champions League.

Secara keseluruhan, kombinasi antara perubahan manajerial, strategi taktik baru, dan dukungan suporter menciptakan momentum yang dapat mengubah arah klub. Penggemar Al-Ittihad menantikan hasil kerja keras tim dalam beberapa pekan mendatang, berharap klub dapat kembali mengukir sejarah gemilang di panggung sepak bola Arab.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.