Media KampungKenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax telah memicu perubahan signifikan dalam pola konsumsi masyarakat di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Sejumlah pengguna kendaraan yang sebelumnya setia menggunakan Pertamax kini mulai beralih ke Pertalite sebagai alternatif yang lebih terjangkau. Fenomena ini terlihat dari peningkatan antrean di SPBU yang menjual Pertalite, sementara permintaan Pertamax menurun.

Selisih harga yang cukup lebar menjadi pertimbangan utama. Salah seorang warga Desa Pamolokan, Firdaus (39), mengaku telah mengganti pilihan BBM kendaraannya setelah harga Pertamax naik. “Saya biasa ngisi kendaraan saya pakai bahan bakar Pertamax, berhubung harga Pertamax naik jadi saya beralih ke Pertalite,” ujarnya, Rabu, 17 Juni 2026. Menurutnya, penggunaan Pertalite lebih ringan dari sisi biaya dan membantu menghemat pengeluaran harian.

Keputusan serupa juga diambil oleh banyak pengguna kendaraan lain di Sumenep. Mereka mulai menghitung ulang biaya operasional kendaraan dan memilih BBM yang lebih ekonomis agar kebutuhan lain tetap terpenuhi. Tren ini menunjukkan bahwa kenaikan harga Pertamax berdampak langsung pada daya beli masyarakat, terutama di daerah dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah.

Data dari beberapa SPBU di Sumenep mencatat peningkatan volume penjualan Pertalite dalam beberapa pekan terakhir. Sebaliknya, penjualan Pertamax mengalami penurunan. Meskipun demikian, belum ada pernyataan resmi dari pihak Pertamina mengenai kebijakan harga di daerah tersebut.

Peralihan konsumen ke Pertalite ini juga mencerminkan sensitivitas harga BBM di kalangan masyarakat. Ke depannya, jika harga Pertamax terus bertahan tinggi, diperkirakan tren peralihan akan semakin meluas. Pemerintah daerah diharapkan dapat memantau situasi ini dan memastikan ketersediaan stok Pertalite mencukupi untuk memenuhi lonjakan permintaan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.