Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi mengalami koreksi pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026, seiring dengan perkembangan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran yang masih berlangsung. Meskipun pada hari sebelumnya IHSG berhasil naik 44,3 poin ke level 6.206,34, kondisi pasar menunjukkan risiko penurunan dalam jangka pendek.

Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, menyatakan bahwa IHSG kemungkinan akan bergerak dalam rentang support 6.060 hingga 6.170, sedangkan level resistansi diperkirakan berada pada kisaran 6.250 sampai 6.270. Kenaikan pada Senin, 25 Mei 2026, terjadi meskipun ada tekanan net sell asing sebesar Rp2,09 triliun dengan saham-saham seperti AMMN, BMRI, AMRT, ANTM, dan TPIA yang menjadi fokus penjualan investor asing.

Di sisi lain, pasar saham Amerika Serikat tidak beroperasi pada hari tersebut akibat libur nasional Memorial Day, sementara bursa Asia menunjukkan pergerakan positif. Indeks Nikkei 225 di Jepang melonjak 2,87 persen, Taiex Taiwan menguat 3,26 persen, dan CSI 300 di Tiongkok bertambah 1,58 persen. Bursa saham Australia juga naik 0,40 persen, walau pasar Malaysia turun tipis 0,24 persen.

Sentimen pasar keuangan di Asia dipengaruhi oleh kabar bahwa tim dari Qatar telah terbang ke Teheran dengan koordinasi dari AS untuk mempercepat tercapainya kesepakatan damai. Reuters melaporkan bahwa langkah ini menjadi sinyal kuat bagi pasar mengenai kemungkinan berakhirnya ketegangan geopolitik yang selama ini membebani harga minyak dan pasar global.

Kenaikan harga minyak juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi dinamika pasar. Harga minyak Brent naik sekitar 0,9 persen menjadi USD103,54 per barel, sementara minyak WTI menguat 0,3 persen ke posisi USD96,60 per barel. Pembukaan kembali jalur perdagangan minyak strategis di Selat Hormuz menjadi daya tarik utama bagi pelaku pasar dan investor global.

Meski begitu, negosiasi antara AS dan Iran masih menghadapi sejumlah poin krusial yang belum tuntas, termasuk isu pengayaan uranium oleh Iran dan permintaan agar dana yang diblokir oleh negara Barat dapat dibuka kembali. Proses finalisasi kesepakatan diperkirakan memerlukan waktu beberapa hari ke depan, sehingga ketidakpastian masih membayangi pergerakan IHSG.

Fanny menambahkan bahwa pasar saham domestik masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan negosiasi ini, sehingga investor disarankan tetap waspada terhadap volatilitas yang mungkin terjadi dalam beberapa hari mendatang. Kondisi ini membuat IHSG menghadapi tekanan koreksi meski tren jangka panjang masih dapat didukung oleh sentimen positif dari peluang perdamaian antara kedua negara.

Dengan demikian, IHSG diperkirakan akan bergerak fluktuatif di tengah harapan akan pencapaian kesepakatan damai AS-Iran yang dapat meredakan ketegangan geopolitik dan stabilisasi harga minyak dunia. Investor diharapkan mengamati perkembangan negosiasi secara seksama sebagai acuan pengambilan keputusan dalam perdagangan saham ke depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.