Media Kampung – Empat film pendek hasil kolaborasi sineas Indonesia dan Asia Tenggara siap melangkah ke panggung internasional melalui program Next Step Studio. Karya-karya ini dijadwalkan tampil di Cannes’ Critics’ Week 2026 setelah melalui proses pengembangan lintas negara yang berlangsung lebih dari dua tahun.
Program Next Step Studio sendiri merupakan inisiatif yang telah berjalan selama satu dekade dan kini untuk pertama kalinya hadir di Indonesia. Sebanyak delapan sutradara terpilih, empat dari Indonesia dan empat dari Asia Tenggara, berkolaborasi untuk mengembangkan empat film pendek dengan pendekatan kreatif yang berbeda.
Empat film pendek tersebut, yakni “Anissa”, “Holy Crowd”, “Mothers Are Mothering”, dan “The Original Wound”. Yulia Evina Bhara selaku produser program tersebut menjelaskan bahwa proses menghadirkan Next Step Studio ke Indonesia tidak instan. Dibutuhkan waktu lebih dari dua tahun untuk meyakinkan berbagai pihak bahwa Indonesia siap menjadi bagian dari program ini.
“Butuh lebih dari dua tahun buat saya untuk meyakinkan bahwa ini waktunya program ini mampir ke Indonesia. Karena kita tahu ada banyak talenta dan cerita kuat dari sini,” ujar Yulia saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Tak hanya menyoroti kualitas artistik, proses seleksi juga menekankan kemampuan kolaborasi antar sutradara. Program ini memang ditujukan bagi sineas yang baru menggarap film panjang pertama atau kedua, sehingga proses kreatif menjadi ruang belajar bersama.
“Yang paling penting bukan cuma talenta, tapi bagaimana mereka mau berkolaborasi. Mereka harus bisa meninggalkan ego dan membangun ide bersama dari nol,” jelasnya.
Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, menegaskan bahwa kehadiran program ini bukan sekadar proyek film biasa, melainkan bagian dari strategi besar kerja sama budaya antara Indonesia dan Prancis.
“Next Step Studio Indonesia bukan hanya sebuah program. Ini adalah sinyal tentang visibilitas dan vitalitas sinema Indonesia, kepercayaan terhadap talenta baru, serta ambisi bersama antara Prancis dan Indonesia,” tutur Fabien.
Direktur Film, Musik, dan Seni di Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Irini Dewi Wanti, juga menyebut program ini sebagai peluang besar bagi sineas muda Indonesia untuk masuk ke jaringan global.
“Inisiatif ini tidak hanya membuka peluang bagi talenta muda Indonesia untuk menembus jaringan industri global, tetapi juga memperkuat diplomasi budaya antara Indonesia dan Prancis,” ujarnya.
Dari sisi produksi, kolaborasi lintas negara ini dimulai secara daring. Para sutradara saling bertukar referensi, mendiskusikan ide, hingga akhirnya mengembangkan naskah bersama.
Keempat film yang dihasilkan menghadirkan tema yang beragam, mulai dari kisah personal hingga kritik sosial dengan pendekatan unik. Film “Anissa” misalnya yang disutradarai oleh Reza Rahadian dan Sam Manacsa, mengangkat kisah seorang anak perempuan tunanetra yang memiliki mimpi untuk tampil di atas panggung.
“Ini cerita tentang seorang anak yang punya mimpi sederhana, ingin bernyanyi di panggung. Bukan soal besar atau kecilnya panggung, tapi tentang keberanian untuk bermimpi,” kata Reza.
Sementara itu, “Holy Crowd” menawarkan pendekatan satir dengan mengangkat absurditas sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Kami mencoba menangkap hal-hal absurd yang sebenarnya terjadi setiap hari di masyarakat,” ujar M. Reza Fahriyansyah selaku sutradara film tersebut.
Di sisi lain, “Mothers Are Mothering” berangkat dari fenomena arisan yang kemudian berkembang menjadi cerita dengan sentuhan sci-fi dan komedi gelap.
Adapun “The Original Wound” mengeksplorasi dinamika keluarga yang dilanda duka, dengan sudut pandang yang berbeda dari masing-masing karakter.
Meski berangkat dari konteks lokal, para sineas menekankan bahwa film-film ini tetap membawa isu universal agar bisa diterima oleh penonton global.
Kehadiran film-film ini di Cannes diharapkan tidak hanya menjadi pencapaian bagi para sineas, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dan distribusi film Asia Tenggara ke pasar yang lebih luas.
Setelah penayangan internasional, para pembuat film juga mengupayakan agar karya-karya tersebut dapat ditonton oleh publik Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan