Media KampungRusia kembali menjadi sorotan internasional setelah Pengadilan Kota St. Petersburg menetapkan Russian LGBT Network sebagai organisasi ekstremis serta laporan intelijen Ukraina mengungkap rencana Moskow merekrut hampir 18.500 tentara asing untuk menggantikan pasukan yang hilang di Ukraina. Kedua langkah tersebut menunjukkan kombinasi strategi penekanan internal terhadap kelompok minoritas dan upaya memperkuat kekuatan militer di tengah tekanan sanksi ekonomi dan kerugian di medan perang.

Keputusan pengadilan itu diambil dalam sidang tertutup atas permintaan Kementerian Kehakiman, yang secara resmi melarang semua aktivitas jaringan selama dua tahun ke depan. Organisasi yang telah beroperasi selama dua dekade itu menyediakan bantuan darurat, riset diskriminasi, dan laporan hak asasi manusia ke PBB. Jika terbukti melanggar, anggota jaringan dapat dijatuhi hukuman penjara dan denda berat, sementara aset organisasi akan disita.

Penetapan status ekstremis ini merupakan bagian dari gelombang tindakan hukum sejak 2023, ketika pemerintah Rusia menambah daftar organisasi LGBTQ+ yang dilarang, termasuk Coming Out, Pusat Sumber Daya LGBT Yekaterinburg, dan Parni+. Undang‑Undang anti‑ekstremisme telah dipakai secara luas untuk menekan aktivis, dan Amnesty International menilai langkah ini memperparah isolasi komunitas LGBTI serta melanggar standar internasional tentang kebebasan berekspresi.

Sementara itu, Badan Intelijen Ukraina (DIU) melaporkan bahwa Rusia berencana merekrut sekitar 18.500 warga asing, terutama pekerja migran dari Asia Tengah, Bangladesh, Chad, Sudan, dan Burundi. Rekrutmen dijanjikan dengan bayaran tinggi, jalur cepat memperoleh kewarganegaraan, namun sering kali melibatkan pemaksaan dan jaringan penyelundup. Laporan menyebut setidaknya 55 warga Ghana tewas di medan perang setelah dijebak bergabung dengan militer Rusia, dan lebih dari 270 warga Ghana lainnya direkrut sejak 2022.

Analisis para pakar keamanan menunjukkan bahwa kedua kebijakan ini mencerminkan tekanan ganda yang dihadapi Moskow. Di satu sisi, penindasan kelompok LGBT berupaya menghilangkan suara kritis di dalam negeri, sementara di sisi lain, kebutuhan akan tenaga militer baru muncul akibat tingginya korban di Ukraina. Menurut Dr. Maxim Olenichev, kuasa hukum Russian LGBT Network, putusan pengadilan “tidak memiliki dasar hukum yang kuat” dan merupakan langkah politik untuk menutup ruang advokasi hak asasi manusia.

Amnesty International menegaskan bahwa penggunaan undang‑Undang anti‑ekstremisme untuk menargetkan komunitas LGBTI harus dihentikan. Marie Struthers, direktur regional Amnesty International untuk Eropa Timur, menyatakan, “Pemerintah Rusia harus menghentikan kebijakan homofobik ini dan menjamin kebebasan berekspresi bagi semua warganya.” Sementara itu, analis militer independen menilai bahwa upaya rekrutmen asing dapat menurunkan moral pasukan reguler dan menimbulkan risiko pelanggaran hak asasi manusia di antara tenaga kerja migran.

Reaksi internasional juga menguat. Uni Eropa dan Amerika Serikat mengecam penetapan organisasi LGBT sebagai ekstremis serta menyoroti praktik perekrutan paksa. Lembaga hak asasi manusia menuntut investigasi independen terhadap dugaan pelanggaran hukum humaniter yang terkait dengan penggunaan tentara asing dalam konflik bersenjata.

Ke depan, Russian LGBT Network berencana mengajukan banding ke Mahkamah Agung Rusia, sementara laporan intelijen Ukraina memperkirakan bahwa proses perekrutan asing akan terus berlanjut hingga akhir 2026. Pengamat politik menilai bahwa keputusan pengadilan dan kebijakan perekrutan mencerminkan upaya Moskow mempertahankan kekuasaan internal sekaligus menutupi kekurangan sumber daya militer dalam perang yang berlarut.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.