Media Kampung – 18 April 2026 | Delapan orang tewas dalam kecelakaan helikopter Airbus H130 berregistrasi PK-CFX yang jatuh di daerah hutan Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, Kamis 16 April 2026.

Helikopter tersebut mengangkut dua kru penerbangan dan enam penumpang yang sebagian besar merupakan karyawan dan eksekutif KPN Corp serta perusahaan perkebunan terkait.

Penerbangan dijadwalkan berangkat dari Sintang menuju helipad PT Graha Agro Nusantara di Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, dengan perkiraan kedatangan pukul 08.50 WIB.

Kontak terakhir tercatat pada pukul 08.39 WIB ketika pesawat dilaporkan hilang sinyal di wilayah Sekadau, sebelum puing-puing ditemukan hancur di puncak bukit.

Tim SAR gabungan yang melibatkan TNI, Polri, Badan SAR Nasional, dan unit SAR kepolisian setempat melakukan pencarian intensif selama dua hari, dan operasi resmi ditutup pada 14.35 WIB, 18 April 2026.

Seluruh jenazah berhasil dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kalimantan Barat di Pontianak untuk proses identifikasi medis dan forensik.

Identifikasi dilakukan oleh tim Biddokkes bersama empat dokter forensik, dengan dukungan teknologi antemortem dan postmortem untuk memastikan akurasi data.

“Tim identifikasi Rumah Sakit Bhayangkara dan Biddokkes sudah bekerja maksimal. Dari delapan penumpang helikopter yang sebelumnya dilaporkan hilang kontak, seluruhnya sudah berhasil diidentifikasi,” ujar Kombes Pol dr. J. Ginting, Kepala RS Bhayangkara Polda Kalbar.

Delapan korban yang telah teridentifikasi secara resmi adalah Joko Catur Prasetyo, Charles Dominson Lakidang, Patrick Kee Chuan Peng (warga Malaysia), Victor Tan Keng Liam, Capt. Marindra Wibowo (pilot), Harun Arasyd (kopilot), Fauzi Organta, dan Sugito.

Satu korban warga negara asing masih memerlukan verifikasi tambahan melalui sidik jari yang akan diproses melalui kedutaan negara asalnya.

Perwakilan operator, I Made Topan dari PT Matthew Air Nusantara, menyatakan tidak ditemukan masalah pada mesin atau kesiapan kru sebelum keberangkatan, menegaskan helikopter dinyatakan layak terbang.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mencatat bahwa PK-CFX tidak dilengkapi dengan kotak hitam (black box), sehingga investigasi harus mengandalkan data teknis lain serta analisis puing di lokasi.

Penyelidikan penyebab kecelakaan masih berada pada tahap awal, dengan fokus pada faktor cuaca, navigasi, serta potensi kegagalan manusia yang masih menjadi dugaan.

Hingga saat ini, proses rekonsiliasi data antemortem dan postmortem masih berlangsung, dan rumah sakit menunggu finalisasi untuk menyerahkan jenazah kepada keluarga korban.

Kondisi terakhir menunjukkan bahwa keluarga korban telah berkumpul di Pontianak, menunggu kepastian identitas lengkap dan proses pemakaman, sementara otoritas terus memperbaharui informasi kepada publik.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.