Media Kampung – 14 April 2026 | Di balik dapur MBG, Agus Yusuf Widodo (53) berjuang menghidupi keluarganya sambil melunasi utang bank, mengandalkan pendapatan dari program dapur khusus di Kabupaten Ngawi. Kisahnya mencerminkan tekad seorang pekerja dengan keterbatasan fisik yang tetap produktif demi pendidikan anak dan stabilitas keuangan.
Setiap pagi, Agus membersihkan area dapur SPPG Khusus, menyapu dan merapikan ruang kerja untuk memastikan kebersihan sebelum proses memasak dimulai. Sebagai petugas kebersihan, ia menerima gaji setiap dua minggu dan menyalurkannya secara terstruktur untuk kebutuhan keluarga dan cicilan utang.
Selain tugas di dapur MBG, ia memelihara delapan ekor kambing dan sesekali menjadi tukang pijat keliling untuk menambah penghasilan. Penghasilan pijatnya bervariasi, kadang Rp50 ribu dari satu pelanggan, hingga Rp100 ribu bila dua orang memesan, namun tidak selalu ada pelanggan.
Sejak kecil Agus mengalami gangguan pendengaran akibat sakit panas, dan baru lima tahun terakhir memakai alat bantu dengar. Ia mengakui bahwa tanpa alat bantu tersebut, ia tidak dapat mendengar dengan jelas, sehingga alat itu menjadi penunjang utama dalam aktivitas sehari-hari.
Kesempatan bekerja di dapur MBG datang lewat rekomendasi seorang teman, kemudian ia melamar tanpa ragu. Setelah melewati proses seleksi, ia sudah lebih dari satu tahun menjadi bagian dari program tersebut dan merasakan dukungan lingkungan kerja yang menerima kondisinya.
"Lumayan bagus dan lancar, alhamdulillah. Saya semangat dan senang bekerja di dapur MBG. Teman‑teman juga menerima kondisi saya," ujarnya. Rasa diterima itu meningkatkan motivasinya untuk tetap konsisten meski harus mengatasi keterbatasan fisik.
Gaji yang diterima setiap dua minggu ia alokasikan secara disiplin: satu periode untuk melunasi utang bank, periode berikutnya untuk kebutuhan rumah tangga. Utangnya dipakai khusus untuk biaya pendidikan anaknya, yang menjadi prioritas utama dalam perencanaan keuangan Agus.
Anak Agus kini dapat bersekolah berkat bantuan cicilan utang yang secara rutin dibayarkan. Ia menegaskan bahwa investasi pendidikan merupakan cara terbaik untuk memutus lingkaran kemiskinan dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi generasi selanjutnya.
Program MBG memberikan titik terang bagi kehidupan Agus, memungkinkan ia mengatur kembali kondisi keuangan dari pekerjaan sederhana menjadi sumber harapan. Dengan pendapatan stabil, ia mulai menata kembali hutang, menambah tabungan kecil, dan merencanakan masa depan yang lebih aman.
Jika diberi kesempatan bertemu Presiden Prabowo Subianto, Agus hanya ingin mengucapkan terima kasih atas peluang kerja di MBG yang membantunya mencicil utang dan memenuhi kebutuhan keluarga. Ucapan tersebut mencerminkan rasa syukur yang mendalam atas dukungan pemerintah dalam program pemberdayaan masyarakat.
Saat ini, Agus terus menjalankan tugasnya di dapur MBG sambil mengelola usaha kambing dan pijat, serta memastikan anaknya tetap bersekolah tanpa hambatan. Kondisi keuangannya menunjukkan perbaikan bertahap, dengan sisa utang yang terus berkurang dan harapan akan stabilitas jangka panjang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan