Media Kampung – Kertas termal yang sering digunakan pada struk belanja dan berbagai tanda terima lain ternyata menyimpan potensi ancaman bagi kesehatan. Teknologi cetak tanpa tinta ini menggunakan lapisan kimia khusus yang dapat berubah warna saat dipanaskan, namun bahan kimia dalam lapisan tersebut berisiko mengganggu hormon dan fungsi tubuh.
Lapisan pada kertas termal umumnya mengandung senyawa bisphenol, terutama Bisphenol A (BPA) dan Bisphenol S (BPS), yang berperan sebagai pemicu perubahan warna. Sayangnya, kedua senyawa ini merupakan pengganggu hormon atau endocrine disruptor yang bisa mengintervensi kerja hormon estrogen, testosteron, dan hormon tiroid. Gangguan hormon tersebut dapat berimbas pada kesuburan, metabolisme, sistem kekebalan tubuh, dan fungsi kognitif manusia.
Selain mengganggu hormon, senyawa bisphenol juga berpotensi merusak DNA serta mempercepat penuaan sel melalui pembentukan molekul reaktif yang merugikan. Dampak ini menjadi perhatian khusus bagi pekerja yang rutin berinteraksi langsung dengan kertas termal, seperti kasir, petugas bandara, dan pekerja logistik.
Sejumlah studi menunjukkan penggunaan produk seperti hand sanitizer atau lotion tangan dapat meningkatkan penyerapan bahan kimia ini melalui kulit hingga 100 kali lipat. Kondisi ini tentu meningkatkan risiko paparan yang lebih serius bagi pekerja di bidang tersebut.
Uni Eropa dan Inggris telah memberlakukan pembatasan penggunaan BPA dalam kertas termal sejak tahun 2020 dengan kadar maksimal kurang dari 0,02 persen dari berat kertas. Namun, penggantian BPA dengan BPS masih menimbulkan risiko serupa, sehingga perlindungan terhadap paparan bahan kimia ini belum sepenuhnya optimal.
Upaya pengembangan alternatif yang lebih aman terus dilakukan oleh para ilmuwan. Sebagai contoh, tim dari École Polytechnique Fédérale de Lausanne (EPFL) di Swiss mengembangkan kertas termal berbasis lignin, bahan alami dari tanaman yang memiliki tingkat toksisitas lebih rendah. Ada juga teknologi lain bernama Blue4est yang menciptakan perubahan warna tanpa reaksi kimia dengan menggunakan lapisan udara mikro.
Meskipun inovasi tersebut menjanjikan, tantangan besar masih ada dalam menciptakan kertas termal yang aman, ramah lingkungan, dan ekonomis tanpa mengubah proses produksi secara drastis. Kesadaran terhadap risiko kesehatan dari kertas termal menjadi penting agar penggunaan teknologi ini tidak mengesampingkan aspek keselamatan bagi pengguna dan pekerja yang sering terpapar.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan