Media Kampung – Berita terbaru menegaskan bahwa boraks terdeteksi dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Anambas, yang menyebabkan keracunan massal pada ratusan pelajar. Kasus ini menimbulkan kekhawatiran serius mengenai keamanan makanan sekolah di Indonesia.

Program MBG, yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Riau, bertujuan menyediakan makanan bergizi bagi siswa di daerah terpencil. Pada bulan Mei 2026, sejumlah sekolah di Kepulauan Anambas melaporkan kasus keracunan setelah mengkonsumsi menu MBG.

Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium, Badan Gizi Nasional (BGN) mengonfirmasi adanya kandungan boraks dan bakteri Escherichia coli pada makanan yang disajikan. Boraks, zat kimia yang dapat berbahaya bila terpapar dalam jumlah tinggi, serta bakteri E. coli dapat menimbulkan gejala seperti diare, mual, dan dehidrasi.

Menurut BGN, keracunan ini disebabkan oleh proses penyimpanan dan pengolahan yang tidak memenuhi standar sanitasi. BGN menegaskan bahwa bakteri E. coli biasanya berasal dari kontaminasi air atau bahan baku yang terkontaminasi.

Reaksi awal dari pihak sekolah meliputi isolasi siswa yang menunjukkan gejala, serta penyelidikan terhadap dapur penyedia makanan. Kepala Sekolah di Anambas, yang namanya tidak diungkapkan, menyatakan bahwa semua makanan yang terindikasi telah ditarik dan diganti.

Pemerintah Riau langsung memanggil pihak dapur umum yang bertanggung jawab atas MBG. Dalam pertemuan tersebut, pengelola dapur mengaku bahwa prosedur keamanan makanan belum diperbarui sejak program MBG pertama kali diluncurkan pada 2015.

Perangkat kesehatan setempat, termasuk Badan Pengawas Makanan dan Obat (BPOM), menambahkan bahwa boraks tidak boleh digunakan dalam proses pengolahan makanan. BPOM menegaskan pentingnya audit rutin untuk mencegah kejadian serupa.

Seiring dengan tindakan korektif, Dinas Pendidikan menegaskan akan meninjau seluruh menu MBG di wilayah Riau. Mereka akan menambah pelatihan bagi staf dapur mengenai sanitasi dan pengolahan makanan.

Kasus sebelumnya, seperti temuan belatung di SMK Pekalongan, memicu kekhawatiran lebih lanjut mengenai kualitas makanan di program MBG. Namun, perbedaan kasus di Anambas menyoroti risiko bahan kimia berbahaya selain kontaminasi biologis.

Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa ratusan pelajar telah menerima perawatan medis dan sepenuhnya pulih. Pemerintah setempat mengumumkan bahwa kebijakan baru mengenai pengawasan makanan akan segera diterapkan di seluruh sekolah.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.