Media Kampung – 09 April 2026 | Muhammadiyah melalui Lazismu mengirimkan paket bantuan medis kepada anak‑anak Palestina yang selamat dari kanker dan saat ini menjalani perawatan di rumah sakit di Yordania. Bantuan tersebut diserahkan dalam acara resmi yang dihadiri perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Amman.

Paket bantuan mencakup obat kemoterapi, suplemen nutrisi, serta peralatan medis pendukung terapi. Selain itu, Lazismu menambahkan dana khusus untuk menutupi biaya pemeriksaan lanjutan dan konsultasi dokter spesialis.

KBRI Amman, melalui Duta Besar Indonesia di Yordania, Bapak R. H. Muhammad Fajar, menyambut baik partisipasi Muhammadiyah. Ia menekankan pentingnya solidaritas internasional dalam menanggulangi krisis kesehatan yang melanda pengungsi Palestina.

Saat ini, lebih dari 1,5 juta warga Palestina berada di luar negeri, termasuk ribuan anak yang hidup di kamp pengungsi di Yordania. Data Kementerian Kesehatan Yordania mencatat peningkatan kasus kanker pada anak‑anak selama lima tahun terakhir.

Faktor utama peningkatan tersebut meliputi paparan lingkungan yang tidak bersih, stres kronis akibat konflik, serta keterbatasan akses ke layanan kesehatan berkualitas. Kondisi ini membuat anak‑anak Palestina rentan terhadap penyakit berat seperti kanker.

Baca juga:

Rumah sakit Al‑Bashir di Amman menjadi salah satu fasilitas utama yang merawat pasien anak Palestina. Staf medis setempat melaporkan kebutuhan mendesak akan obat‑obatan esensial yang sering kali harus diimpor.

Bantuan Lazismu diharapkan mempercepat proses pengadaan obat dan mengurangi jeda waktu antara diagnosis dan terapi. Dengan dukungan logistik KBRI, paket bantuan dapat tiba di rumah sakit dalam tiga hari kerja.

Selain bantuan materi, Lazismu juga menyertakan tim relawan psikolog untuk memberikan konseling kepada anak dan keluarga. Pendekatan holistik ini dianggap penting untuk mengatasi trauma psikologis yang menyertai perjuangan melawan kanker.

Program konseling tersebut dipimpin oleh psikolog senior, Dr. Siti Nurhaliza, yang memiliki pengalaman bekerja dengan anak‑anak pengungsi. “Kesehatan mental sama pentingnya dengan pengobatan fisik, terutama pada anak usia dini,” ujarnya.

Pengiriman bantuan ini merupakan lanjutan dari serangkaian program Lazismu di wilayah Timur Tengah. Pada tahun 2023, organisasi yang sama menyalurkan bantuan makanan dan pakaian kepada keluarga pengungsi di Suriah.

Pemerintah Indonesia melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga memberikan dukungan keuangan kepada Lazismu untuk proyek ini. Total dana yang dialokasikan mencapai 150 juta rupiah, yang sebagian besar dialokasikan untuk obat kemoterapi.

Para penerima bantuan menyatakan rasa terima kasih yang mendalam atas kepedulian tersebut. Seorang ibu korban, Fatima, mengatakan bahwa bantuan ini menyelamatkan harapan anaknya yang tengah menjalani perawatan intensif.

Baca juga:

Organisasi kemanusiaan lain, seperti Palang Merah Internasional, mencatat bahwa kolaborasi antara lembaga keagamaan dan diplomatik meningkatkan efektivitas distribusi bantuan. Hal ini menjadi contoh model kerja sama lintas sektor.

Konflik berkepanjangan di Gaza dan Tepi Barat memperparah situasi kesehatan warga sipil, termasuk anak‑anak yang terpapar radiasi dan bahan kimia. Keterbatasan fasilitas medis di wilayah tersebut memaksa banyak pasien mencari perawatan di luar negeri.

Yordania telah menjadi tujuan utama bagi pengungsi Palestina selama beberapa dekade, dengan kebijakan terbuka dalam menyediakan layanan kesehatan dasar. Namun, beban biaya perawatan kanker tetap menjadi tantangan bagi keluarga berpenghasilan rendah.

Dengan dukungan Lazismu, diharapkan beban tersebut dapat berkurang secara signifikan, memungkinkan lebih banyak anak mendapatkan terapi tepat waktu. Peningkatan angka kesembuhan diperkirakan akan tercapai bila bantuan berkelanjutan diteruskan.

Ketua Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah menegaskan bahwa program ini bukan aksi sekali pakai. “Kami akan terus memantau kebutuhan di lapangan dan menyesuaikan bantuan sesuai perkembangan kasus,” tegasnya.

Pemerintah Yordania mengapresiasi partisipasi organisasi internasional dalam mengatasi beban kesehatan pengungsi. Menteri Kesehatan Yordania, Dr. Ahmad Al‑Saeed, menyatakan bahwa kolaborasi semacam ini memperkuat sistem kesehatan nasional.

Bantuan ini menandai langkah konkret dalam upaya solidaritas umat manusia terhadap anak‑anak yang terdampak konflik dan penyakit serius. Ke depan, Lazismu berencana memperluas jangkauan program ke wilayah pengungsi lain di Timur Tengah.

Baca juga:

Dengan kombinasi dukungan materi, medis, dan psikologis, diharapkan anak‑anak Palestina yang selamat dari kanker dapat melanjutkan hidup dengan kualitas yang lebih baik. Upaya bersama ini menunjukkan bahwa kemanusiaan tetap menjadi prioritas utama di tengah gejolak politik.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.