Media Kampung – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah menginisiasi modernisasi sistem pengamanan perlintasan kereta api dengan mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan sensor otomatis. Upaya ini bertujuan menekan risiko kecelakaan di perlintasan sebidang yang masih sering terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan BRIN, Eka Rakhman Priandana, menekankan pentingnya sistem kelistrikan yang handal untuk mendukung keselamatan dalam operasional kereta api. Ia menyebut bahwa sistem persinyalan harus didukung oleh pasokan listrik yang stabil, seperti menggunakan Uninterruptible Power Supply (UPS), agar tetap berfungsi optimal saat terjadi gangguan listrik mendadak.

Selain itu, sistem palang pintu dan sirine di perlintasan harus dijaga agar terus beroperasi meskipun ada gangguan kelistrikan. Pada sistem Kereta Rel Listrik (KRL), pemeriksaan kabel listrik aliran atas menjadi faktor krusial untuk menjaga keselamatan perjalanan kereta api.

BRIN memandang bahwa penerapan teknologi AI dan sensor canggih seperti axle counter dan LIDAR dapat memperkuat sistem pengamanan otomatis di seluruh perlintasan sebidang nasional. Eka Rakhman menyatakan, “Modernisasi atau otomatisasi penuh sistem pengaman perlintasan sebidang adalah suatu keharusan untuk mengurangi insiden. Inovasi persinyalan berbasis kecerdasan artifisial dibutuhkan agar sistem pengamanan perlintasan dapat bekerja otomatis sepenuhnya.”

Selain fokus pada teknologi pengamanan, BRIN juga menanggapi kekhawatiran masyarakat tentang potensi gangguan elektromagnetik dari kereta api terhadap kendaraan yang melintas. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, medan magnet di sekitar rel kereta masih dalam batas aman bagi kendaraan dan manusia. Eka menambahkan bahwa medan magnet tersebut sebanding dengan medan magnet bumi yang secara alami dihadapi manusia setiap hari dan tidak menimbulkan masalah.

BRIN juga menghadirkan inovasi material perlintasan kereta api berupa Rubber Crossing Plate yang terbuat dari bahan karet. Teknologi ini dirancang menggantikan material konvensional seperti beton dan aspal yang selama ini digunakan. Menurut Perekayasa Ahli Madya BRIN, Ade Sholeh Hidayat, pelat ini memiliki permukaan rata, elastis, dan anti-slip sehingga dapat meningkatkan keselamatan pengguna jalan.

Ade menambahkan bahwa Rubber Crossing Plate mampu meredam getaran tinggi serta tahan terhadap cuaca ekstrem dan beban kendaraan berat. Material ini diharapkan mampu memberikan solusi baru dalam peningkatan keselamatan dan kenyamanan di perlintasan kereta api nasional.

Dengan berbagai inovasi tersebut, BRIN berupaya memperkuat sistem keselamatan di perlintasan kereta api agar risiko kecelakaan dapat ditekan secara signifikan. Penggunaan teknologi AI dan sensor otomatis menjadi kunci utama dalam modernisasi pengamanan perlintasan yang lebih efektif dan responsif terhadap berbagai kondisi lapangan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.