Media Kampung – Dalam sebuah acara wisuda di University of Central Florida, pernyataan seorang pembicara tamu yang menyebut kecerdasan buatan (AI) sebagai revolusi industri berikutnya mendapat reaksi beragam dari para lulusan. Ungkapan tersebut justru memicu sorakan dan ketidaksetujuan dari sebagian audiens.
Gloria Caulfield, wakil presiden aliansi strategis di perusahaan pengembangan yang didanai ekuitas swasta, Tavistock, menyampaikan pidatonya dengan mengatakan, “Mari kita akui, perubahan bisa menakutkan. Kebangkitan kecerdasan buatan adalah revolusi industri berikutnya.” Pernyataan ini langsung disambut dengan keheningan singkat lalu diikuti dengan sorakan ‘boo’ dari para hadirin yang mayoritas adalah mahasiswa baru lulus.
Caulfield tampak terkejut dengan reaksi tersebut dan bertanya, “Apa yang terjadi?” sebelum melanjutkan pidatonya. Dia kemudian menegaskan, “Beberapa tahun lalu, AI belum menjadi faktor dalam kehidupan kita.” Pernyataan ini justru mendapat sambutan hangat berupa tepuk tangan yang meriah dari para lulusan, yang menunjukkan kontras sikap terhadap AI.
Reaksi beragam ini mencerminkan kekhawatiran yang meliputi lingkungan, hak cipta, hingga dampak AI terhadap kreativitas manusia dan lapangan pekerjaan. Banyak lulusan yang mungkin merasa cemas tentang bagaimana AI akan mempengaruhi masa depan mereka setelah lulus. Ini berbeda dengan pandangan dari kalangan industri teknologi yang melihat AI sebagai peluang besar dan perubahan penting di dunia.
AI memang telah menjadi pusat perhatian global dalam beberapa tahun terakhir, dengan investasi besar dari berbagai perusahaan seperti OpenAI, Anthropic, dan Microsoft. Bahkan OpenAI mengklaim bahwa ChatGPT memiliki lebih dari 900 juta pengguna aktif mingguan dan 50 juta pelanggan berbayar. Namun, ketakutan akan dampak negatif teknologi ini tetap menjadi isu yang hangat diperbincangkan.
Pernyataan Caulfield bukan tanpa contoh. Kepala Nvidia, Jensen Huang, juga pernah menyamakan AI dengan revolusi industri dan menekankan pentingnya memanfaatkan ledakan teknologi ini, terutama di Inggris. Nvidia sendiri menjadi perusahaan pertama yang mencapai valuasi 5 triliun dolar berkat teknologi AI, dan baru-baru ini pemerintah AS menyetujui penjualan chip AI Nvidia ke beberapa perusahaan di China.
Meski demikian, ketidakpastian dan kekhawatiran masyarakat, terutama para lulusan yang baru memasuki dunia kerja, tetap menjadi perhatian utama. Perbedaan reaksi antara pembicara dan audiens menggambarkan dinamika kompleks di tengah kemajuan teknologi yang pesat. Para lulusan tampak lebih nyaman dengan pengakuan bahwa AI baru menjadi faktor dalam kehidupan mereka baru beberapa tahun terakhir dibanding harus dihadapkan langsung dengan konsep revolusi industri yang membawa perubahan besar dan tidak pasti.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan