Media Kampung – Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, menekankan bahwa ketahanan nasional merupakan fondasi utama untuk menciptakan stabilitas kawasan dan memperkuat sistem multilateralisme dalam menghadapi tantangan global. Pernyataan ini disampaikan dalam Sidang Umum ke-81 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berlangsung di New York, Amerika Serikat, pada Sabtu, 26 September 2026.

Ketahanan Nasional sebagai Pilar Stabilitas

Dalam pidatonya, Sugiono menyoroti bahwa Indonesia sejak awal berdiri bersama PBB dengan tujuan yang sama, yakni menghindari perang dan perpecahan. Meskipun dunia telah mengalami berbagai kemajuan, tantangan krisis dan konflik masih terus terjadi. Oleh karena itu, multilateralisme harus tetap tangguh, adaptif, dan memberikan hasil nyata agar perdamaian dan kemakmuran dapat bertahan.

Sugiono menjelaskan bahwa ketahanan nasional Indonesia dibangun melalui berbagai upaya, termasuk kemandirian pangan, ketahanan energi, investasi pada pendidikan dan kesehatan, serta pembangunan ekonomi yang mampu menghadapi guncangan. Selain itu, persatuan dalam keberagaman, demokrasi, hak asasi manusia, dan supremasi hukum menjadi aspek penting dalam ketahanan nasional Indonesia dengan penduduk lebih dari 280 juta jiwa.

Ketahanan Kawasan dan Peran ASEAN

Menlu Sugiono menegaskan bahwa ketahanan di tingkat nasional menjadi dasar bagi ketahanan kawasan. Ia memberikan contoh ASEAN yang selama hampir enam dekade berhasil mengelola perbedaan dan menjaga komunikasi antarnegara anggotanya. Persatuan dan sentralitas ASEAN memungkinkan kawasan tetap membuka ruang dialog dan kerja sama dengan berbagai mitra, meskipun menghadapi kompetisi strategis yang meningkat.

Transformasi Multilateralisme dan Posisi PBB

Di tingkat global, Sugiono menggarisbawahi peran penting PBB yang tidak tergantikan dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Namun, ia menilai PBB dan sistem multilateralisme harus terus bertransformasi menjadi lebih representatif, tangkas, dan mampu memberikan hasil konkret. Sugiono menolak gagasan mengurangi multilateralisme sebagai solusi, melainkan menyerukan multilateralisme yang lebih baik dan efektif.

Isu Palestina sebagai Ujian Multilateralisme

Salah satu ujian nyata bagi sistem multilateralisme menurut Sugiono adalah isu Palestina. Ia menyatakan bahwa kasus Palestina bukan hanya persoalan regional, melainkan tes bagi sistem internasional dalam menegakkan prinsip dan memberikan hasil saat paling dibutuhkan. Indonesia berkomitmen mendukung rakyat Palestina hingga terwujud negara merdeka dan berdaulat berdasarkan solusi dua negara yang sesuai hukum internasional.

Kontribusi Indonesia dalam Perdamaian Dunia

Indonesia siap terus berperan aktif dalam menjaga perdamaian dan keamanan dunia melalui diplomasi, mediasi, bantuan kemanusiaan, pembangunan perdamaian, serta kontribusi dalam misi pemeliharaan perdamaian PBB. Sugiono juga mengumumkan pencalonan Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB periode 2029-2030 dengan tema “Fostering Unity, Advancing Peace”.

Dalam perannya, Indonesia akan mengedepankan dialog terbuka, membangun titik temu, menjunjung tinggi Piagam PBB, dan menerjemahkan tanggung jawab bersama ke dalam kerja sama konkret. Sugiono mengakhiri pidatonya dengan seruan agar negara-negara semakin mendekat dan saling memperkuat ketahanan, agar mampu menghadapi krisis, menjaga kerja sama kawasan, dan mewujudkan hasil nyata bagi masyarakat global.